Ambillah resiko

akurat.me


Ambillah resiko


Seorang “driver” sudah pasti mengekspos diri pada risiko. Anda tak mungkin menjadi “driver” tanpa memikul beban risiko sama sekali. Dengan demikian, Anda mungkin saja berhadapan dengan masalah atau kesalahan-kesalahan. Tak ada orang yang belajar me­nge­mudikan kendaraan dengan selalu mulus tanpa ma­salah sama sekali. Benturan-benturan kecil adalah biasa dan bila ia ceroboh, nyawanya dapat hilang.

Sebaliknya, bila Anda bertemu dengan orang yang tak pernah melakukan kesalahan sama sekali, barang­kali ia hanyalah orang yang tak pernah berbuat apa-apa. Sehingga ia pun tak punya karya apa-apa, tak ada warisan karya berarti, dan tak memiliki keteguhan hati. Mereka mungkin saja enggan, menolak untuk “mem­bayar” pengorbanan yang dituntut, sehingga seperti pepatah di atas: tak bisa merasakan, tak bisa mencintai, dan tak akan tumbuh.

Mengambil risiko bukan berjudi

Karena kehidupan selalu diwarnai dengan ketidak­pastian, maka apa pun yang Anda lakukan selalu ada risikonya. Ingin men­dapatkan kekasih yang cantik/ganteng? Bisa jadi ia bukan pa­sangan yang kelak cocok bagi hidup Anda. Ada orang yang co­cok namun belum tentu mau menerima Anda. Saat Anda men­de­katinya, cinta Anda bisa diterima, bisa juga ditolak. Tetapi ka­lau Anda tak mendekatinya, sudah pasti tidak terjadi apa-apa, dan Anda tak mendapat apa-apa. Anda hanya menjadi manusia yang asyik dengan perasaan Anda sendiri, dan manusia seperti ini adalah manusia yang galau seperti orang yang terdiam di te­ngah kerumunan dan tak tahu mau bergerak ke mana. Kalau Anda mendekatinya, minimal Anda mendapatkan pengalaman, bukan?

Anda melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi pun bisa s ukses atau gagal. Anda bisa bertemu pendidik yang mem­bantu namun juga bisa sebaliknya. Selalu ada saja risiko gagal atau berhasil. Kalau gagal, Anda tentu mendapatkan pelajaran, dan kalau berhasil akan mendapatkan pengembangan. Tetapi kalau tak melakukan apa-apa, sudah pasti Anda tak mendapatkan pelajaran berharga.

Jadi, risiko ada di mana-mana dan para pengambil risiko me­lakukan upaya-upaya untuk mengatasinya, yaitu kerja keras dan memutar otak, berpikir lebih kreatif, dan melakukan langkah-langkah pengamanan.

Jadi pengambilan risiko berbeda dengan berjudi ( gambling). Da­lam berjudi, seseorang sekadar mengadu nasib yang hasilnya 100% sangat acak ( random ). Dalam gambling Anda bermain game tanpa keahlian khusus dan Anda berharap akan terjadi keajaiban. Bila pengambilan risiko memungkinkan orang yang bekerja ke­ras berhasil, maka dalam berjudi Anda hanya mengandalkan ke­ber­­untungan tanpa kerja keras. Dan, Anda bisa saja kecanduan. Men gambil risiko yang terukur, bagi seorang driver adalah sebaliknya.

Karakter Pengambil Risiko

Karena driver adalah orang yang mengekspos diri pada risiko, maka mereka umumnya menyandang sejumlah karakter. Orang-orang yang bersedia mengambil risiko ini umumnya:

Bersedia Membayar Biayanya

Anda mungkin pernah mendengar kata-kata indah dari Shiv Khera: winners see the gain, losers see the pain. Karena setiap kali memikirkan “sakit”-nya, seorang pecundang enggan mengarungi dunia kerja keras. Ini berbeda dengan mereka yang memiliki karakter sebagai pemenang. Pemenang bersedia membayar biaya-biayanya.

Biaya itu adalah pengorbanan, kepahitan-kepahitan, ke­sulitan-kesulitan, kerja keras, kurang tidur, dimarahi orang lain, dipersalahkan, dan lain sebagainya. Para pengambil ri­siko adalah orang yang berani mencoba dan bersedia mem­bayar itu semua kendati hasilnya belum jelas.

Biaya-biaya itu juga bisa berarti uang, tenaga (energi), rasa malu, waktu, dan emosi. Mereka membayar itu semua dengan ikhlas dan sadar bahwa bila gagal maka semua pe­ngorbanan yang telah dikeluarkan akan hilang begitu saja. Namun bila ber­hasil, mereka akan mendapatkan “return” atau “payback” beserta keuntungan-keuntung­an yang merekat bersamanya. Semua itu akan melekat dengan diri mereka selama-­lamanya, tumbuh dan berkembang, menjadi ahli dan meraih kehebatan.

Menerima konsekuensi

Driver mengambil risiko dengan kesediaan menerima segala konsekuensinya. Bila dalam bercinta mereka bisa saja ditolak, maka dalam melucu mereka bisa saja dianggap “garing”, bahkan bisa menjadi sangat malu. Apa pun yang terjadi, mereka harus siap menerima konsekuensinya. Na­mun, seorang driver sejati rela memperbaiki diri dan hanya gagal sekali.

Tidak Cari Aman

Para pengambil risiko bukanlah orang-orang yang punya kebiasaan buruk mencari posisi aman bagi dirinya. Mereka bukanlah orang-orang yang biasa bersembunyi di balik selimut rasa aman dan sangat mencintai jabatannya. Mereka adalah orang yang mencintai pembaruan dan paham “posisi aman” sangat tak menguntungkan.

Menerima Julukan-Julukan Sinis

Mereka juga bisa saja menjadi sasaran dari mayoritas pe­nonton yang biasanya justru terdiri dari para pencari aman. Julukan-julukan sinis, ejekan, hinaan, bisa mereka terima setiap saat. Di antaranya adalah julukan bahwa mereka terlalu naif, subjektif, berlebihan, emosional, dan tidak rasional. Christopher Columbus, penjelajah yang mengklaim telah mendatangi India saja mendapatkan cemoohan, demikian juga dengan Copernicus dan Steve Jobs. Ini juga terjadi pada CEO-CEO terkenal Indonesia yang memimpin perubahan. Mereka semua menerima julukan-julukan sebagai orang yang arogan, tak mau mendengarkan, dan seterusnya, namun tetap teguh mengambil inisiatif-inisiatif baru.

Karakter Penghindar Risiko

Di sisi lain, orang-orang yang menghindari risiko biasanya me­miliki karakter-karakter seperti berikut:

Mereka pengecut, takut sebelum berbuat sesuatu. 

Mereka sangat mencintai jabatan atau kondisi sekarang. 

Kurang berani mengambil keputusan. Keputusan diam-bangkan, diputar-putar sampai masa jabatannya berakhir.

Mereka cenderung menjadi orang yang egosentris, hanya mengurus kesejahteraan diri sendiri. 
Steril. Biasanya menghindari ekspos dari publik dan kelompok yang lebih besar. 
Cenderung senang menyalahkan orang lain. 

Cenderung bersembunyi dalam kerumunan, menuruti ke­hendak mayoritas yang menginginkan kenyamanan. 

Tidak kreatif. Orang-orang seperti ini biasanya kesulitan menemukan “pintu keluar”. Mereka cenderung tidak kreatif karena akalnya jarang dilatih. 

Menghalangi orang lain untuk maju. Mereka senang meng­hambat kemajuan dan cenderung menganggap orang-orang yang cerdik atau lebih pandai sebagai orang yang sia-sia dan tidak penting. Mereka tidak senang menjalankan pro­gram pengembangan SDM. Bahkan, anggaran pengem­bangan SDM dialihkan pada pelatihan-pelatihan yang tidak penting agar tak ada orang yang bisa muncul lebih hebat dari dirinya. 

Senang melakukan rapat-rapat yang mulur dan dalam se­tiap rapat tak ada kejelasan tentang keputusan atau lang­kah-langkah yang diambil. Setiap peserta rapat memiliki kesimpulan sendiri-sendiri, bahkan bi­ngung apa yang baru saja dibicarakan. 

Tidak menentukan goals spesifik yang harus dicapai, tidak ada action plan. 

Tidak melakukan evaluasi atas pencapaian tugas secara ber­tahap. 

Kurang/tidak percaya diri. Mereka cenderung ingin dite­rima oleh ke­lompok yang le­bih besar dengan meng­ubah pendirian atau sikap, kendati mereka kurang merasa nya­man. Tetapi karena keinginannya yang besar agar diterima, maka mereka pun mengubah ”identitasnya”, menjadi seakan-akan sama dengan kelompok yang lebih besar. 

Tidak berani melakukan sesuatu yang berbeda atau ber­beda pendapat. 

Turut menyalahkan atau menyerang orang lain yang tidak berada pada posisi penting dan berbeda pendapat dengan pemegang kekuasaan. 

Senang menyalahkan orang lain (blaming others). 

Orang-orang yang menghindari pengambilan risiko dapat Anda temui di mana-mana. Jumlahnya jauh lebih banyak daripada mereka yang berani mengambil risiko. Itu sebabnya hanya ada sedikit orang yang berpredikat pahlawan. Dan, dunia selalu menunggu pahlawan-pahlawan berikutnya.  

Orang-orang yang berani mengambil risiko biasanya adalah perantau, penemu, pemberontak, penerobos, dan para pahlawan perang. Sedangkan, mereka yang menghindari risiko biasanya adalah mereka yang memperebutkan posisi-posisi internal. Hanya berkutat di lingkungan yang sama dari waktu ke waktu. Jarang melakukan perjalanan jauh. Enggan mencoba hal-hal baru dan lebih memilih menghindar daripada berbuat.

akurat.me

Belum ada Komentar untuk "Ambillah resiko"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel