Berpikir dalam kotak baru

fawaz.id


Latihan Assertivesness


Salah satu cara untuk melatih seorang good passenger menja­di good driver adalah dengan memberikan keterampilan asser­tiveness . Walaupun menurut kamus assertiveness diterjemahkan sebagai ketegasan, ia mempunyai banyak arti.

Saya sendiri lebih senang me­ngartikannya sebagai seni bertutur kata, menampilkan gerak-isyarat yang menunjukkan ketegasan, namun tetap bersahabat. Maksud saya, tanpa mengabaikan hak orang lain. Ingatlah, kita memerlukan suasana yang win-win, bukan win-lose , apalagi lose-lose .

Untuk jelasnya, Anda bisa membaca kolom saya yang per­nah diturunkan di Jawa Pos yang berjudul “ Assertiveness” . Coba­lah berlatih agar Anda menjadi manusia yang lugas: tegas na­mun tak menyakiti orang lain.

Jadi, secara garis besar, kita bisa membedakan dua tipe ma­nusia, yaitu manusia passenger dan manusia driver , maka kita juga bisa membedakannya sebagai manusia pasif dan manusia agresif.

Mungkin manusia menjadi pasif karena tak berani memper­juangkan hak-hak pribadinya, bahkan haknya untuk meng­ungkapkan perasaannya. Jadi seakan-akan ia hanya menghargai hak orang lain dengan mendengarkan tanpa berbicara, apalagi memperjuangkan hak-haknya.

Manusia yang agresif bisa terjadi karena tidak menghargai hak-hak orang lain, dan sebaliknya sangat mementingkan hak-hak pribadinya. Ia menampilkan segala keinginan personalnya secara terbuka, namun mengabaikan atau kurang menghormati hak-hak orang lain.

Di antara keduanya terdapat karakter lain yang disebut pa­sif-agresif dan assertiveness.

Pasif-agresif adalah ibarat Anda antre di sebuah loket untuk membeli tiket. Anda sudah berada di antrean ke-3 dari depan. Tiba-tiba seseorang datang dari luar antrean dan berdiri persis di depan Anda tanpa permisi. Apa yang Anda lakukan?

Orang yang pasif, meski kesal, diam seribu bahasa. Haknya dirampas, dia mendiamkan. Orang pasif-agresif juga kesal, tetapi ia tidak berani mengungkapkannya secara terbuka. Ia hanya agresif terhadap dirinya sendiri. Ngomel tanpa ditujukan secara langsung pada orang yang mengambil haknya.

Maka, sikap yang paling baik sesungguhnya adalah asser-tive . Di sini Anda dilatih berbicara secara terbuka, menyam-paikan unek-unek dan hak Anda yang diambil orang lain agar dikembalikan, namun dengan seni yang tinggi tidak akan merendahkan martabat Anda maupun orang lain.

Itulah sebabnya assertiveness perlu dilatih. Ini bukan sekadar bahasa, melainkan juga perasaan dan kedewasaan, kepercayaan diri, dan gesture (bahasa isyarat-gerak). Melalui latihan itu, Anda dibang­kitkan kesadaran diri ( self awareness, self respect ), kemampuan bernegosiasi, membaca isyarat, mengurangi agresi­vitas, memperbaiki tone , dan komunikasi.

Berpikir dalam kotak baru


Pada 1960-an, para ahli mengajarkan cara berpikir “ out of the box ” untuk melatih para eksekutif mencari cara-cara baru. Pada masa itu, hingga akhir abad ke-21, dunia relatif stabil dan predictable (dapat diramalkan), praktis belum banyak hal baru yang berhasil ditemukan.

Menjelang akhir abad ke-20 suasananya sudah banyak ber­ubah. Banyak hal baru bermunculan. Uang pun berubah dari fisik menjadi uang digital , mengakibatkan ia bergerak begitu cair dan cepat. Demikian pula dengan berita (surat kabar) dan informasi. Benda-benda baru bermunculan. Batas-batas ne­gara pun pupus, menjadikan kita warga negara dari sebuah komu­nitas global. Semua itu terjadi karena manusia dilatih untuk berpikir keluar dari kotaknya.

Orang-orang yang dilatih menjadi “ driver ” diajak keluar dari kotak masing-masing. Mungkin Anda pernah belajar meng­hubungkan sembilan titik pada bujur sangkar di bawah ini. An­da diminta menghubungkan kesembilan titik itu dengan empat garis lurus tanpa mengangkat pena Anda dari kertas. Perhatikan diagram sembilan titik di bawah ini.

Silakan dicoba, walau kadang Anda merasa itu hampir mustahil. Masalahnya ternyata sederhana saja. Anda merasa titik itu adalah titik, yaitu penutup kalimat, ujung dari pengalaman Anda. Itu adalah pagar pembatas yang membuat Anda merasa harus masuk kembali ke dalam.

Sekarang cobalah berani keluar. Titik itu bukanlah titik se­­perti titah Ibunda saat Anda belum memegang mandataris ke­hidupan. Masih ingatkah kata-kata ibunda Anda berikut ini, “Ibu bilang begitu, titik!” (Dan Anda pun berpaling, masuk ke dalam rumah dan memeluk selimut nyaman Anda, membatal­kan argumentasi untuk tetap pergi bersama teman).

“Ibu bilang titik!” adalah sebuah batas yang membuat An­da merasa harus balik kembali ke dalam. Anda tak berani berjalan ke ­luar pagar, keluar dari “titik” itu. Padahal titik-titik itu hanyalah gambar imajiner yang tak berarti apa-apa selain sesuatu yang harus dihubungkan. Tak ada yang melarang Anda untuk pergi ke luar dan kembali: Sekarang cobalah kembali. De­ngan berani keluar, atau memulainya dari luar sama sekali. Mungkin Anda akan menemukannya seperti berikut ini.

Berani keluar dari “kotak” atau titik pembatas adalah latihan awal seorang passenger untuk menjadi seorang driver . Ingatlah, seorang driver adalah orang yang harus tahu jalan-jalan di luar jalan yang biasa ditempuh orang lain. Karena itulah ia harus memiliki kemampuan mencoba jalan-jalan baru, keluar dari jalur-jalur utama, mengambil risiko tersesat tanpa harus me­langgar hukum. Maka, ia pun mengenal peta besar, biasa me­lihat dari luar maupun dari dalam. Inside out, outside in.

Namun, apakah itu box atau kotak dalam thinking in new boxes ?

Sama seperti titik yang bukan pembatas, maka kotak adalah paradigma, pendekatan, cara, jalan yang biasa kita tempuh, kategori, klasifikasi, stereotyping , pandangan, kebiasaan, sebuah model mental. Ya, itulah kotak, sebuah cara berpikir.

Pada abad ke-21, Luc De Brabandere dan Alan Iny (2013) memperkenalkan konsep thinking in new boxes . Ini disebabkan oleh ba­nyak hal yang telah ditemukan oleh manusia, sehingga ruang bagi Anda untuk menemukan sesuatu yang benar-benar baru sungguh terbatas. Karena itu, yang dibutuhkan adalah cara baru dalam memandang segala hal yang sudah exist itu. Jadi, mengubah cara pandang itu penting. Misalnya saja, ia mengajak Anda membayangkan seakan-akan perusahaan atau pemerintahan yang Anda pimpin telah benar-benar lenyap. Mulailah dari awal.

Berpikir dengan cara-cara baru itu akan memudahkan se­seorang berubah dari passenger menjadi driver . Maka, milikilah “paspor” untuk menjelajahi isi dunia ini. Lihatlah Indonesia dengan kacamata baru dari dalam, kiri, kanan, dan luar. Pandanglah Indonesia dengan segala potensinya dengan cara-cara baru.

Tanpa kemampuan melihat dengan cara-cara baru, Anda tak bisa menjadi change driver .

“Saya kasihan melihat anak-anak kita yang sesungguhnya bisa menjadi lebih hebat, tetapi kurang dipercaya orangtua. Berikan kepercayaan, tantangan, dan dukungan, maka mereka dapat menjadi lebih hebat lagi. Jangan kekang, hambat, atau jadikan mereka passengers.

fawaz.id

Belum ada Komentar untuk "Berpikir dalam kotak baru"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel