Orang pintar itu sok tahu!

akurat.me

Orang pintar itu sok tahu!


Banyak orang cerdas menjalankan bisnis dengan sukses. namun tak sedikit pula yang gagal kegagalan dalam bisnis tersebut tak jarang terjadi karena para pebisnis cerdas tersebut melakukan kesalahan kecil, bahkan cenderung konyol bahkan saat masalah kehancuran perusahaan berasal dari sebuah kegagalan produk, sumbernya tetap dari cara berpikir salah dari pebisnis cerdas tersebut.

Ada begitu banyak contoh mengenai pebisnis cerdas yang gagal dalam bisnis, salah satunya adalah para owner Kodak. Perusahaan yang pernah merajai pasar teknologi fotografi di gital tersebut bangkrut karena para leader-nya takut “keluar” dari core business mereka.

Contoh nyata lain adalah perusahaan Xerox. Perusaha an ini gagal menguasai salah satu produk pengubah sejarah dunia, yakni komputer desktop dengan antarmuka pengguna grafis. Konsekuensinya, saat ini Xerox hampir tak memiliki apa-apa sementara Apple terus memproduksi komputer dan gadget tercanggih secara rutin.

Pertanyaan tentu saja mengarah pada para leader peru sahaan. Mana mungkin mereka tidak menaruh perhatian akan kemampuan pesaingnya? Para leader tersebut merupakan pe bisnis cerdas dengan rekam jejak yang sangat mengesankan. Sepertinya mereka tak mungkin abai. Lalu apa yang terjadi?

Di kepala orang-orang cerdas seringkali tertanam penda pat bahwa kegagalan tidak akan pernah terjadi pada mereka. Orang pintar melihat dirinya, dan usahanya, sebagai “hal yang tak tersentuh.” Kecerdasan kadang membutakan fakta bahwa pengusaha paling sukses pun bisa jatuh ke tanah. Ekspektasi yang tidak realistis ini membuat kegagalan tak terhindarkan.

Di sisi lain, orang bodoh mungkin saja juga melakukan kesalahan-kesalahan konyol yang membuat bisnisnya gagal.

Akan tetapi, sebuah kesalahan mereka lakukan sebab belum tahu. Dengan kata lain, karena bodoh, mereka tidak tahu bah wa apa yang mereka lakukan itu salah, jadi bisa dimaklumi. Nah, kalau orang pintar yang merasa tahu banyak segala hal lalu tetap tak bisa menghindari kesalahan, terasa konyol bu kan?

Orang bodoh cukup diberi tahu mengenai kesalahan mereka, diajari agar tidak melakukannya dua kali. Umumnya mereka dapat memperbaiki situasi dengan cepat. Sementara orang pintar seringkali menutup telinga rapat-rapat jika diberi tahu. Tidak tertarik pada apa yang dilakukan orang lain, apa lagi jika tidak terlibat di dalamnya.

Bob Sadino kerap menganggap dirinya goblok, oleh karena itu ia terus mencari cara untuk memintarkan diri. Ia mempelajari banyak informasi mengenai banyak hal sesering mungkin. Apabila menemukan hal-hal yang tak dipahami nya, ia terus mencari tahu dari berbagai sumber hingga be nar-benar mengerti dan menjelaskan pada orang lain dengan lebih berarti. Membaca buku, majalah, menonton acara-aca ra informatif di televisi dan bertanya pada orang-orang yang lebih ahli dilakukan Bob demi meningkatkan pemahaman dan mengembangkan keterampilan bisnisnya.

JUMAWA

Sikap jumawa kerap me nyebabkan kegagalan bis nis. Para pebisnis cerdas terobsesi dengan citra perusahaan. Mereka ter lalu sibuk menjadi “wajah” perusahaan daripada me mimpinnya secara efektif. Jika terjadi sesuatu yang dianggap merusak citra tersebut, mereka cende rung menyembunyikan hal tersebut. Padahal sikap seperti ini justru membahayakan kejujur an mereka sendiri.

Banyak pebisnis cerdas cukup tahu seberapa cerdas di rinya. Identitas mereka menjadi sangat terbungkus dalam kecerdasannya sehingga mereka percaya bahwa pendapat orang lain itu tidak penting. Mereka membuat keputusan ce pat dan menolak menjawab pertanyaan ketika mereka tidak paham. Meski ini sesuai dengan citra seorang leader yang kuat, membuat keputusan terburu-buru tanpa berpikir dua kali seringkali berakhir pada keputusan yang salah. Peluang gagal diperkuat ketika mereka tidak peduli apa yang dipikir kan orang lain.

Beberapa leader menjadi sangat terobsesi dengan loyali tas. Mereka berharap tidak ada pegawai yang akan menen tang setiap keputusan mereka. Sikap atasan seperti ini tentu nya dapat mengkerdilkan karyawan andal dan membungkam opini-opini mereka. Padahal bisa jadi banyak feedback mereka yang mungkin dapat membantu kesuksesan perusahaan.

Orang pintar juga seringkali dibutakan oleh visi pribadi nya mengenai bagaimana mereka harus menjalankan perusa haan. Mereka mengabaikan masukkan dan saran, dan menjadi terlalu percaya diri. Benar bahwa percaya diri dan ketekunan merupakan kualitas seorang leader, namun hal itu tidak ber arti mengabaikan fakta-fakta di sekeliling mereka.

Kesuksesan masa lalu juga sering menggagalkan bisnis. Mengevaluasi keberhasilan dan kegagalan terdahulu dapat membantu perusahan tumbuh lebih kuat. Sayangnya banyak leader terlalu lama mengagumi keberhasilan mereka di masa lalu. Tak menyadari bahwa strategi yang pernah mereka guna kan mungkin tak sesuai lagi, dan cenderung terus mengulangi strategi yang sama. Padahal kebutuhan kostumer teknologi dan lingkungan kompetitif terus berubah.

Untuk alasan ini, pebisnis bodoh cenderung beradaptasi dengan lingkungannya secara konstan. Karena merasa bodoh, mereka sadar harus meminta pendapat orang lain. Orang bo doh mendengarkan masukan dan saran orang lain dan meng hargainya. Mereka tak sibuk mengagumi dirinya sendiri.

Pebisnis bodoh juga tak merasa sungkan jika harus me ngatakan kepada orang lain bahwa ia belum sukses. Nyatanya mereka memang belum apa-apa, dan ingin menjadi sesuatu. Mereka bahkan tidak memikirkan sukses, hanya terus ber gerak agar bisnisnya tumbuh dan berkembang, minimal ber tahan. Jika diam berlama-lama pada satu titik, mereka tahu usahanya akan hancur.

akurat.me

Belum ada Komentar untuk "Orang pintar itu sok tahu!"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel