Ada apa dengan SHOCKLEY ?

himedik.me


Ada apa dengan SHOCKLEY ?


Sepulang dari Stockholm, Shockley besar kepala, tetapi perasaan tidak aman yang menggerogoti batinnya tetap tak berkurang. Dalam obrolan dengan seorang rekan kerja, Shockley berkomentar bahwa “sudah waktunya” kontribusi dia diakui. Suasana di Shockley Semiconductor “semakin memburuk saja”, menurut Last, sampai perusahaan itu mulai menyerupai “rumah sakit jiwa raksasa”. Noyce memberi tahu Shockley mengenai “rasa dongkol yang secara umum (kian membuncah)”, tetapi peringatannya tidak digubris.

Karena tidak mau saling percaya dengan rekan kerja, sulit bagi Shockley untuk menciptakan iklim kolaborasi. Ketika sejumlah karyawannya menulis makalah untuk dipresentasikan di hadapan American Physical Society pada Desember 1956, sebulan setelah dia meraih Nobel, Shockley menuntut agar namanya dicantumkan sebagai salah satu penulis. Tuntutan serupa diajukan pula untuk sebagian besar permohonan paten yang diajukan oleh perusahaan. Anehnya, secara kontradiktif, Shockley bersikeras mengatakan penemu sejati benda apa pun hanya ada satu karena “hanya satu orang yang mendapat ilham dari langit”. Orang-orang lain yang terlibat “cuma pembantu”, imbuhnya. 66 Pengalaman Shockley sendiri terkait transistor, yang diciptakan oleh tim, seharusnya menyadarkan dia bahwa keyakinan itu keliru besar. Ego membuat Shockley berbenturan bukan saja dengan para bawahan, melainkan juga bos dan pemilik perusahaan, Arnold Beckman.

Ketika Beckman terbang ke Palo Alto untuk merapatkan pentingnya pengendalian biaya, Shockley mengejutkan semua orang dengan mengumumkan di depan seluruh staf senior, “Arnold, jika kau tidak menyukai yang kami kerjakan di sini, aku bisa membawa pergi kelompok ini dan mencari dukungan dari tempat lain.” Dia kemudian keluar dari ruangan dengan bersungut-sungut, mempermalukan pemilik usaha di depan jajaran staf. Itu sebabnya, wajar jika Beckman menyimak baik-baik ketika pada Mei 1957 dihubungi oleh Gordon Moore, yang ditunjuk oleh para kolega yang gelisah sebagai juru bicara untuk mengemukakan protes mereka. “Keadaan di sana tidak bagus, ya?” tanya Beckman.

Moore dan para kolega, yang baru saja menonton The Caine Mutiny , mulai menggagas pemberontakan untuk menjatuhkan Kapten Queeg tokoh streng dalam film itu versi mereka. 68 Beberapa pekan berikutnya, dalam serangkaian rapat dan acara makan malam rahasia yang dihadiri oleh Beckman dan tujuh staf utama yang dipimpin oleh Moore, ditekenlah kesepakatan untuk menggeser Shockley ke jabatan konsultan senior tanpa tanggung jawab manajerial. Beckman kemudian mengajak Shockley makan malam dan memberitahukan perubahan itu. Shockley mula-mula menerima. Dia akan memperkenankan Noyce mengelola lab dan berperan sebagai penyumbang ide serta penasihat strategi saja. Namun, Shockley lantas berubah pikiran. Menyerahkan kontrol tidak termasuk bakatnya. Selain itu, dia ragu Noyce mampu menjadi pemimpin.

Shockley memberi tahu Beckman bahwa Noyce bukan “pemimpin yang agresif” dan kurang tegas dalam membuat keputusan kritik yang ada benarnya. Shockley mungkin memang terlalu tegas dan memaksa, tetapi Noyce, yang berpembawaan egaliter dan akomodatif, barangkali memang perlu lebih galak. Tantangan bagi seorang manajer ialah bagaimana menyeimbangkan ketegasan dengan egalitarianisme, sedangkan Shockley dan Noyce sama-sama tidak punya perpaduan karakter yang pas untuk menjadi pemimpin. Ketika dipaksa memilih antara Shockley atau para staf, Beckman menjadi gentar. “Saya salah mencurahkan loyalitas.

Saya merasa berutang budi kepada Shockley dan karena itu, berkewajiban memberinya kesempatan untuk membuktikan diri,” Beckman menjelaskan kelak. “Andai dahulu mengetahui hal yang saya ketahui sekarang, saya tentu akan mengucapkan selamat tinggal kepada Shockley.” 69 Beckman mencengangkan Moore dan rekan-rekan dengan keputusannya. “Beckman pada dasarnya memberi tahu kami, ‘Shockley-lah sang bos. Kalau kalian tidak terima, pergi saja,’” kenang Moore. “Tahulah kami bahwa sekelompok doktor muda tidak bisa dengan mudah mengesampingkan seseorang yang baru saja menang Nobel.” Pemberontakan tak terelakkan. “Kami diperlakukan dengan semena-mena. Kami kemudian sadar bahwa kami harus pergi,” kata Last.

Meninggalkan usaha yang sudah mapan untuk merintis bisnis tandingan tidak lazim dipraktikkan saat itu. Maka, keputusan mereka memang butuh keberanian. “Budaya bisnis di negara ini ialah, ketika kita bekerja di suatu perusahaan, kita mesti bertahan di sana sampai pensiun,” komentar Regis McKenna, suhu marketing perusahaan teknologi pada masa itu. “Demikianlah tradisi di Pesisir Timur dan bahkan di daerah Midwestern Amerika.”

Tradisi tersebut sudah ketinggalan zaman tentu saja, dan para pemberontak Shockley turut berperan dalam mengubah budaya bisnis di Amerika Serikat. “Kesannya saja yang mudah karena tradisi kita di kota ini yang dirintis oleh pria-pria itu sekarang seperti ini,” kata Michael Malone, sejarawan Silicon Valley. “Mending keluar dan mendirikan perusahaan sendiri, dan kemudian gagal ketimbang bertahan di satu perusahaan selama tiga puluh tahun. Namun, kondisinya tidak seperti itu pada 1950-an. Pasti menakutkan sekali membuat keputusan tersebut.” 71 Moore kemudian mengonsolidasikan kelompok pemberontak. Mereka mula-mula berjumlah tujuh orang Noyce belum bergabung dan memutuskan membuat perusahaan sendiri. Namun, butuh dana untuk mendirikan perusahaan. Jadi, salah seorang dari mereka, Eugene Kleiner, menyurati pialang saham ayahnya di firma broker tenar di Wall Street, Hayden, Stone & Co.

Setelah menjabarkan latar belakang dan kompetensi mereka, Kleiner menyatakan, “Kami yakin perusahaan bisa masuk ke bisnis semikonduktor dalam kurun tiga bulan.” Surat tersebut sampai di meja Arthur Rock, analis berusia 30 tahun yang telah sukses dalam investasi-investasi riskan sejak kuliah di Harvard Business School. Rock meyakinkan bosnya, Bud Coyle, bahwa proposal itu layak ditindaklanjuti dengan perjalanan ke barat supaya mereka bisa menyelidiki langsung. 72 Ketika bertemu dengan ketujuh orang itu di Hotel Clift, San Fransisco, Rock dan Coyle menyadari kurangnya satu hal: pemimpin. Maka, mereka mendesak kelompok tersebut agar merekrut Noyce, yang sempat menolak karena komitmennya kepada Shockley.

Akhirnya, Moore berhasil membujuk Noyce agar menghadiri pertemuan berikutnya. Rock terkesan. “Begitu melihat Noyce, saya terkesima akan karismanya dan saya langsung tahu bahwa dialah pemimpin natural mereka. Mereka tunduk kepadanya.” 73 Dalam pertemuan tersebut, kelompok itu, termasuk Noyce, berjanji akan angkat kaki bersama-sama untuk mendirikan perusahaan baru. Coyle mengeluarkan beberapa lembar uang dolar baru yang licin, yang mereka tanda tangani sebagai bentuk kontrak simbolis satu sama lain. Dahulu sukar mendapatkan uang, terutama dari korporasi yang sudah mapan, untuk mendirikan perusahaan independen.

Wacana pemberian modal untuk usaha rintisan dalam bentuk seed funding belum terpikirkan ketika itu; inovasi penting tersebut masih harus menunggu sampai sebagaimana akan kita lihat nanti Noyce dan Moore membuat usaha baru lagi. Jadi, mereka mencari korporasi yang bersedia menjadi sponsor sebagai divisi semiotonom, seperti yang Beckman lakukan untuk Shockley. Selama beberapa hari berikutnya kelompok tersebut menelaah Wall Street Journal dan mencatat 35 perusahaan yang mungkin mau mengadopsi mereka. Rock mulai menghubungi perusahaan ini itu sepulang ke New York, tetapi tidak mendapatkan hasil.

“Tak satu pun bersedia menerima divisi terpisah di dalam perusahaan mereka,” kenang Rock. “Mereka merasa bisa-bisa karyawan mereka sendiri keberatan. Beberapa bulan kami berkeliling dan sudah hampir menyerah ketika seseorang mengusulkan agar saya menemui Sherman Fairchild.”

Kemitraan tersebut teramat pas. Fairchild, pemilik Fairchild Camera and Instrument, adalah inovator, playboy , wirausahawan, dan pemilik saham personal terbesar di IBM, yang salah seorang pendirinya adalah ayah Fairchild. Pria yang jago otak-atik ini membuat kamera dengan lampu flash tersinkronisasi pertama di dunia sewaktu masih mahasiswa tingkat satu di Harvard. Dia kemudian mengembangkan teknologi fotografi udara, kamera radar, pesawat terbang khusus, metode untuk menerangi lapangan tenis, tape recorder berkecepatan tinggi, mesin ofset untuk mencetak koran, mesin tatah warna, dan korek api tahan angin.

Dalam prosesnya, kekayaan dia bertambah selain dari warisan. Fairchild pun menghasilkan dan membelanjakan uang dengan sama girangnya. Dia sering mengunjungi klub malam El Morocco dan 21 Club sambil menggandeng (menurut Fortune ) “gadis cantik baru tiap beberapa hari”, dan merancang sendiri rumah futuristik berdinding serta bertangga kaca di Upper East Side, Manhattan, yang menghadap ke taman serambi berbatu yang dibungkus keramik hijau. 75 Fairchild dengan sigap menyediakan $1,5 juta untuk mendirikan perusahaan baru kira-kira dua kali lipat estimasi kedelapan pendiri dengan imbalan berupa opsi penjualan.

Paranoianya semakin parah dan dia menjadi yakin bahwa secara genetis, orang kulit hitam memiliki IQ rendah sehingga harus dicegah memiliki keturunan. Sang genius yang menggagas transistor dan memimpin orang-orang ke “tanah terjanji”, Silicon Valley, akhirnya menjadi paria yang tiap kali memberi kuliah selalu dihadiahi teriakan protes. Sebaliknya, delapan pengkhianat yang mendirikan Fairchild Semiconductor ternyata orang-orang yang tepat pada waktu yang tepat. Angka permintaan transistor sedang meningkat berkat radio saku yang dirilis oleh Pat Haggerty lewat Texas Instruments, dan angka itu masih akan melonjak semakin tinggi.

Pada 4 Oktober 1957, tiga hari sesudah berdirinya Fairchild Semiconductor, Rusia meluncurkan satelit Sputnik dan memulai lomba di luar angkasa dengan Amerika Serikat. Program antariksa sipil, serta program pembuatan rudal balistik militer, melambungkan permintaan akan komputer ataupun transistor. Berkat situasi itu pula perkembangan kedua bidang menjadi saling terkait.

Karena komputer harus dibuat sekecil mungkin agar muat di dalam hidung roket, penting untuk mencari cara guna menjejalkan ratusan dan kemudian ribuan transistor ke dalam peranti yang mungil.

himedik.me

Belum ada Komentar untuk "Ada apa dengan SHOCKLEY ?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel