ADA (Lady Byron)

wowkece.me

ADA (Lady Byron)


Agar Ada tidak menjadi seperti ayahnya, Lady Byron menyuruh putrinya tekun belajar matematika, seolah-olah matematika merupakan obat penawar imajinasi puitis nan beracun. Pada usia yang baru 5 tahun, Ada menunjukkan minat lebih pada bidang geografi. Namun, Lady Byron memerintahkan agar geografi diganti dengan pelajaran aritmetika tambahan. Tidak lama kemudian, pengasuh Ada dengan bangga melaporkan, “Dia sudah bisa menjumlahkan bilangan hingga lima atau enam baris secara akurat.”

Kendati berbagai upaya pencegahan sudah dikerahkan, perilaku Ada masih saja menyerupai ayahnya. Ketika berusia belasan tahun, Ada sempat menjalin asmara dengan salah seorang tutornya dan, selepas mereka ketahuan serta sang tutor diusir, Ada sempat mencoba kabur dari rumah agar bisa bersama pria tersebut. Selain itu, emosi Ada kerap mengalami pasang surut secara dramatis kegembiraan yang meluap-luap bisa berubah menjadi keputusasaan dalam sekejap dan dia menderita berbagai penyakit, baik secara fisik maupun psikologis.

Ada menerima keyakinan ibunya bahwa karakter turunan Byron dapat dijinakkan dengan menceburkan diri ke dalam matematika. Selepas perselingkuhan berbahaya dengan tutornya, dan terinspirasi Mesin Selisih Babbage, Ada memutuskan, pada usia 18 tahun, untuk mempelajari cabang-cabang matematika secara lebih giat.

“Saya harus berhenti menginginkan kehidupan yang tujuannya semata-mata demi mencari kesenangan atau memuaskan diri sendiri,” tulis Ada dalam surat untuk tutor barunya. “Saya merasa satu-satunya cara untuk mengendalikan imajinasi saya yang liar ialah dengan mempelajari kajian ilmiah secara saksama dan sungguh-sungguh .... Yang pertama tebersit di benak saya ialah belajar matematika.”

Sang tutor setuju dengan resep tersebut. “Anda benar bahwa telaah intelektual yang disiplin merupakan solusi dan pelindung terbaik Anda saat ini. Untuk mencapai tujuan tersebut, tidak ada bidang yang lebih unggul daripada matematika.” 17 Tutornya meresepkan geometri Euklides, dilanjutkan dengan trigonometri dan aljabar. Obat itu semestinya mujarab. Demikianlah yang diyakini oleh mereka berdua untuk menyembuhkan siapa saja dari gairah artistik dan romantis yang berlebihan.

Minat Ada terhadap teknologi tumbuh saat ibunya mengajak berkeliling kawasan industri Britania untuk melihat berbagai pabrik dan mesin anyar. Ada paling terkesan dengan mesin tenun otomatis yang menggunakan kartu berlubang untuk menghasilkan kain dengan motif-motif tertentu, dan dia menggambar sketsa mekanisme alat tenun tersebut.

Pidato terkenal ayahnya di House of Lords berisi pembelaan atas kaum Luddite yang menghancurkan mesin semacam itu karena takut akan dampak teknologi terhadap umat manusia. Namun, Ada justru memuji-muji mesin tenun otomatis dan membayangkannya sebagai cikal bakal mesin serbaguna yang kelak kita sebut komputer. “Mesin ini mengingatkanku pada Babbage dan ( Mesin Selisih) yang hebat,” tulis Ada. 

Ketertarikan Ada pada sains terapan semakin terstimulasi ketika bertemu dengan satu dari segelintir matematikawan dan ilmuwan terkemuka Britania, Mary Somerville. Somerville baru saja rampung menulis salah satu adikaryanya, On the Connexion of the Physical Sciences , yang menguraikan keterkaitan antara perkembangan astronomi, optika, kelistrikan, kimia, fisika, botani, dan geologi.* 1

Sebagaimana yang sedang tren pada zamannya, wacana Somerville membungkus seluruh temuan luar biasa yang bermekaran ketika itu ke dalam satu kesatuan. Dia menyatakan dalam kalimat pembuka, “Perkembangan sains modern, terutama dalam lima tahun terakhir ini, patut kita soroti karena keberhasilannya dalam menyederhanakan hukum alam dan mempersatukan bidang-bidang yang berlainan di bawah payung berupa prinsip-prinsip umum.”

Somerville menjadi teman, guru, pemberi inspirasi, dan mentor bagi Ada. Somerville bertemu Ada secara rutin, mengiriminya buku-buku matematika, mengajukan persoalan untuk dipecahkan, dan dengan sabar menjelaskan jawaban yang benar. Somerville juga berkawan baik dengan Babbage serta, pada musim gugur 1834, dia dan Ada kerap menyambangi pesta malam Sabtu yang digelar oleh Babbage. Putra Somerville, Woronzow Greig, membantu menjodohkan Ada dengan menyebutkan kepada mantan teman seangkatannya di Cambridge bahwa Ada Byron barangkali cocok atau menarik, setidak-tidaknya sebagai istri. William King adalah pria yang terpandang secara sosial, mapan secara ekonomi, lumayan pintar, dan memiliki sifat pendiam yang sepadan dengan sifat emosional Ada. Sama seperti Ada, William mempelajari sains, tetapi fokusnya lebih praktis dan kurang puitis. Minat utama William ialah teori rotasi tanaman pangan dan kemajuan dalam teknik pembudidayaan hewan. Baru beberapa minggu berkenalan dengan Ada, William sudah mengajaknya menikah. Lamaran itu serta-merta diterima oleh Ada.

Ibu Ada, dilatarbelakangi motif yang hanya dapat dipahami oleh psikiater, memutuskan William harus diberi tahu mengenai percobaan Ada untuk kawin lari dengan tutornya. Kabar ini tidak menyurutkan niat William menikahi Ada pada Juli 1835. “Tuhan Maha Pengasih, yang telah bermurah hati memberimu kesempatan untuk meninggalkan jalan yang bertabur onak dan duri, kini memberimu seorang teman dan pelindung,” tulis Lady Byron dalam surat untuk sang putri, sekaligus menambahkan bahwa Ada mesti memanfaatkan peluang itu untuk “mengucapkan selamat tinggal” pada semua “keganjilan, keplinplanan, dan keegoisanmu”. 

Pernikahan tersebut didasari hitung-hitungan yang rasional. Bagi Ada, perkawinan itu membukakan pintu ke kehidupan yang lebih mapan dan stabil serta, yang lebih penting, memberinya kesempatan untuk melarikan diri dari kebergantungan pada ibunya yang berkepribadian dominan. Bagi William, menikahi Ada berarti memiliki istri yang menarik dan eksentrik dari keluarga kaya nan terkenal.

Sepupu Lady Byron, Viscount Melbourne (yang sialnya pernah menikah dengan Lady Caroline Lamb, yang saat itu sudah meninggal), menjabat sebagai perdana menteri. Dalam daftar penerima anugerah kebangsawanan untuk merayakan penobatan Ratu Victoria, dia membubuhkan nama William yang akan digelari Earl of Lovelace. Dengan demikian, istrinya menjadi Ada, Countess of Lovelace. Sejak saat itu, dia disebut sebagai Ada atau Lady Lovelace, kendati kini lazim dikenal sebagai Ada Lovelace.

Natal 1835, Ada menerima lukisan ayahnya yang seukuran asli dari sang ibu. Dilukis oleh Thomas Philips, potret itu menggambarkan Lord Byron dalam pose menyamping, mengenakan busana tradisional Albania berupa jas beledu merah dan tutup kepala, dengan pedang seremonial. Selama bertahun-tahun dipajang di atas rak perapian di rumah kakek-nenek Ada, potret tersebut ditutupi kain hijau sejak hari perpisahan orangtuanya. Kini Ada dipercaya bukan hanya untuk melihat potret itu,

melainkan juga memilikinya, beserta peninggalan lain dari ayahnya berupa wadah tinta dan pena.

Lady Byron melakukan sesuatu yang malah lebih mengejutkan ketika anak pertama suami istri Lovelace, bayi laki-laki, lahir beberapa bulan kemudian. Walaupun membenci mendiang suaminya, dia setuju ketika Ada menamai putranya Byron. Tahun berikutnya Ada melahirkan putri yang dinamai Annabella, dari nama ibunya. Ada kemudian terserang penyakit misterius, yang menyebabkannya tidak bisa meninggalkan tempat tidur selama berbulan-bulan.

Kesehatan Ada akhirnya relatif membaik sehingga bisa melahirkan anak ketiga, putra bernama Ralph. Namun, dia tidak pernah pulih benar. Dia menderita penyakit pencernaan dan pernapasan akut yang diperparah oleh konsumsi obat berupa laudanum (ekstrak opium), morfin, dan varian opium, yang menyebabkan pasang surut emosi dan terkadang delusi.

Ada semakin terpukul gara-gara peristiwa dramatis yang bahkan janggal menurut ukuran keluarga Byron yang melibatkan Medora Leigh, anak perempuan kakak tiri sekaligus kekasih Byron. Menurut rumor yang dipercayai oleh kalangan luas, Medora adalah putri Byron. Medora seolah bertekad menunjukkan bukan turunan keluarga Byron namanya jika tidak berbuat macam-macam. Dia berselingkuh dengan suami saudarinya sendiri, lalu kabur dengan pria itu ke Prancis dan melahirkan dua anak di luar nikah. Lady Byron dengan gagah pergi ke Prancis untuk menyelamatkan Medora, lalu membeberkan kisah inses ayah Ada kepada putrinya.

“Kisah yang teramat janggal dan mengerikan” itu sepertinya tidak mengejutkan Ada. “Aku sama sekali tidak kaget,” tulisnya dalam surat untuk sang ibu. “Ibu semata-mata mengonfirmasi kecurigaan yang sudah bertahun-tahun kuyakini.” 20 Anehnya, alih-alih merasa berang, Ada justru makin bersemangat berkat kabar itu. Dia menyatakan bisa memahami hasrat ayahnya untuk melawan norma-norma dan keharusan yang berlaku.

Dalam surat untuk ibunya, setelah menyebut kegeniusan ayahnya telah disalahgunakan, Ada mengatakan, “Jika beliau menurunkan sedikit saja kegeniusannya kepadaku, aku akan memanfaatkannya untuk menguak fakta-fakta dan kebenaran hebat. Menurutku, beliau telah mewariskan tugas ini kepadaku. Demikianlah firasatku dan aku akan dengan senang hati menjalankan titipannya.”

wowkece.me

Belum ada Komentar untuk "ADA (Lady Byron)"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel