Atanasoff siapa?

wowkece.me


Atanasoff siapa?

Atanasoff menggemari mobil; jika punya uang, dia bahkan akan membeli mobil baru tiap tahun dan, pada Desember 1937, dia membeli Ford baru bermesin V8 nan perkasa. Agar pikirannya santai, Atanasoff menyetir mobil itu malam-malam dan ternyata, perjalanan berkendara tersebut akan menjadi momen yang patut dicatat dalam sejarah komputer.

Dia keluar dari jalan raya dan menepi di kedai minum pinggir jalan. Setidak-tidaknya di Illinois, beda dengan di Iowa, dia dapat membeli minuman keras. Atanasoff memesan bourbon dengan soda sesloki, lalu sesloki lagi. “Saya menyadari keresahan saya sudah berkurang dan saya pun kembali memikirkan mesin komputasi,” kenangnya. “Saya tidak tahu kenapa pikiran saya saat itu encer, padahal sebelumnya tidak.

Namun, suasana entah kenapa terasa tenang, sejuk, dan nyaman.” Pelayan tidak menghiraukan dia sehingga Atanasoff dapat terus merenungkan persoalannya tanpa diganggu. 

Dia mencorat-coret idenya di serbet, kemudian mulai merunut sejumlah persoalan praktis. Yang paling penting ialah cara mengisi ulang muatan di dalam kondensor, yang niscaya kosong dalam waktu satu atau dua menit. Terbetik di benaknya untuk memasangkan beberapa kondensor itu ke sejumlah silinder yang berputar, kira-kira seukuran kaleng minuman ringan sehingga bersentuhan sekali sedetik dengan kawat-kawat sehalus sikat dan terisi ulang muatannya.

“Malam ini di kedai minum, pikiran saya mencetuskan kemungkinan dihasilkannya memori regeneratif,” Atanasoff menyatakan. “Saya menyebutnya ‘sentilan’ saat itu.” Seiring tiap putaran silinder, kawat-kawat akan menyentil memori kondensor dan, bila perlu, mengambil data dari kondensor dan menyimpan data baru. Atanasoff juga menggagas rancangan untuk mengambil angka-angka dari dua silinder kondensor yang berlainan, kemudian menggunakan sirkuit tabung vakum untuk menjumlahkan atau mengurangi kedua angka tersebut dan menyimpan hasilnya di dalam memori. Setelah beberapa jam mereka-reka semuanya, kenang Atanasoff, “Saya masuk ke mobil dan menyetir pulang dengan laju lebih lambat.”

34 Mei 1939, Atanasoff siap memulai pembuatan purwarupa. Dia memerlukan seorang asisten, lebih diutamakan mahasiswa pascasarjana yang punya pengalaman di bidang rekayasa. “Saya sudah mendapatkan calon yang tepat,” kawannya sefakultas memberi tahu Atanasoff suatu hari. Demikianlah, dia pun menjalin kemitraan dengan sesama putra insinyur elektro autodidak, Clifford Berry. 35 Mesin Atanasoff dirancang dan diprogram untuk satu tujuan: menyelesaikan lebih dari satu persamaan linear secara simultan. Mesin tersebut dapat memproses maksimal 29 variabel.

Di tiap langkahnya, mesin Atanasoff akan memproses dua persamaan dan mengeliminasi satu variabel, lalu mencetak hasilnya di kartu berlubang biner seukuran 8 × 11 inci. Kartu-kartu yang memuat persamaan lebih sederhana ini kemudian dimasukkan kembali ke mesin untuk diproses, guna mengurangi satu lagi variabelnya. Keseluruhan proses itu memang memakan waktu. Jika kerjanya lancar, waktu yang dibutuhkan mesin untuk menyelesaikan satu set soal yang terdiri atas 29 persamaan lebih-kurang satu minggu. Namun, perlu dicatat bahwa manusia yang mengerjakan proses serupa dengan kalkulator meja membutuhkan setidaknya sepuluh minggu. Atanasoff memperagakan purwarupanya pada penghujung 1939.

Berharap bisa memperoleh dana untuk merakit mesin utuh, dia mengetik proposal 35 halaman dan menggunakan kertas karbon untuk membuat beberapa salinan. “Tujuan utama makalah ini ialah menyuguhkan deskripsi dan uraian tentang mesin komputasi yang dirancang khususnya untuk memecahkan persamaan aljabar linear yang panjang,” demikian awal proposalnya. Seolah menepis kritik bahwa kegunaan tersebut terlalu terbatas untuk mesin sebesar itu, Atanasoff secara spesifik menyebutkan persoalan-persoalan yang pemecahannya membutuhkan persamaan aljabar linear: “pencocokan kurva ... persoalan vibrasional ... analisis sirkuit listrik ... struktur elastis.” Dia menutup proposal dengan menjabarkan rencana pengeluaran secara detail, yang nilai totalnya $5.330. Dana itu akhirnya dia peroleh dari yayasan swasta. 36 Lalu, dia mengirimkan satu kopi karbon proposalnya kepada seorang pengacara paten di Chicago yang dipekerjakan Universitas Iowa. Pengacara ini ternyata tidak bertanggung jawab.

Baru terungkap belakangan, gara-gara sejumlah kontroversi legal dan historis yang berlarut-larut, pengacara tersebut lalai mendaftarkan paten kliennya. September 1942, model mesin Atanasoff sudah hampir rampung. Ukurannya sebesar meja dan terdiri atas hampir tiga ratus tabung vakum. Namun, terdapat satu masalah: mekanisme penghasil bunga api untuk melubangi kartu tidak kunjung berhasil diciptakan. Karena tidak ada tim beranggotakan ahli mesin dan insinyur mumpuni di Universitas Iowa, Atanasoff tidak bisa minta tolong kepada siapa-siapa.

Saat itulah kerjanya terhenti. Atanasoff ditarik ke Angkatan Laut dan diutus ke laboratorium senjata di Washington, D.C. Di sana dia mengerjakan ranjau akustik dan belakangan menghadiri tes bom atom di Atol Bikini. Sekalipun kemudian mengalihkan fokus dari komputer ke survei rekayasa untuk penggunaan militer, Atanasoff tetap aktif sebagai penemu, bahkan memperoleh tiga puluh paten, salah satunya adalah alat penyapu ranjau darat. Walau begitu, pengacara Atanasoff yang berbasis di Chicago tidak pernah mengajukan paten untuk komputernya.

Komputer Atanasoff bisa saja menjadi terobosan penting. Namun, mesin tersebut ditakdirkan masuk tong sampah, baik dalam arti kiasan maupun harfiah. Mesin yang sudah nyaris berfungsi disimpan di gudang bawah tanah gedung fisika Iowa Sate University dan, beberapa tahun berselang, sepertinya tak seorang pun ingat apa kegunaan mesin tersebut.

Ketika ruang itu dibutuhkan untuk penggunaan lain pada 1948, seorang mahasiswa pascasarjana memeretelinya, tidak mengerti itu mesin apa, dan membuang sebagian besar komponennya. 37 Bahkan, dalam berbagai kronik sejarah yang ditulis oleh para periwayat awal era komputer, nama Atanasoff tidak banyak disebut. Kalaupun mesin itu bisa bekerja seperti seharusnya, tetap saja terdapat keterbatasan. Sirkuit tabung vakum membuat perhitungan secepat kilat, tetapi unit memori yang berputar secara mekanis sangat memperlambat proses kerjanya.

Begitu pula pelubangan kartu dengan cara dibakar. Supaya kerjanya betul-betul cepat, komponen komputer modern harus elektronik seluruhnya , bukan cuma sebagian. Selain itu, model Atanasoff tidak bisa diprogram, tetapi hanya dirancang untuk mengerjakan satu hal: menyelesaikan persamaan linear. Daya tarik Atanasoff sebagai penemu ialah karena mengotak-atik kreasinya sendirian di ruang bawah tanah, hanya ditemani oleh rekan mudanya, Clifford Berry.

Namun, kisahnya justru membuktikan bahwa amat sukar untuk menjadi penemu yang seperti itu. Sama seperti Babbage, yang juga membanting tulang di bengkel kecilnya sendiri hanya dengan satu asisten, Atanasoff gagal membuat mesin yang berfungsi seutuhnya.

Andaikan dia bekerja di Bell Labs, di tengah banyak teknisi, insinyur, serta mekanik, atau di universitas riset besar, sangat mungkin akan ditemukan solusi untuk pembaca kartu dan lain-lain.

Selain itu, kepergian Atanasoff ke Angkatan Laut pada 1942 tentu takkan menjadi kendala karena masih ada tim yang bisa memoles kreasinya sampai rampung atau paling tidak mengingat fungsi mesin tersebut. Penyebab Atanasoff tidak dilupakan dalam sejarah pengembangan komputer sesungguhnya ironis, yakni peristiwa yang kelak membuat dia dongkol.

Peristiwa Juni 1941 itu berupa kunjungan dari orang yang gemar jalan-jalan, meminjam ide, dan bekerja sama dalam tim daripada banting tulang sambil menyepi. Kunjungan John Mauchly ke Iowa nantinya menjadi titik tolak gugatan hukum yang berlarut-larut, tuduhan getir, dan perang narasi historis.

Namun, kunjungan itu pula yang menyelamatkan Atanasoff dari kuburan sejarah dan mendorong perkembangan komputer ke depan.

wowkece.me

Belum ada Komentar untuk "Atanasoff siapa?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel