Bisnis itu beresiko

akurat.me

Bisnis itu beresiko


Bisnis itu berisiko; bisnis itu kejam; bisnis itu ibarat main judi, terlalu banyak pertaruhannya. Buang jauh pikiran seperti itu, karena pikiran dan perkataan Anda adalah doa. Menurut Rhonda Byrne dalam blog best seller-nya The Secret, apa yang Anda pikirkan, maka itulah yang akan terjadi dengan diri Anda.

Bagi yang mau terjun ke dunia bisnis, awalnya pasti dihinggapi keraguan, meskipun kata hatinya tetap ingin terjun ke dunia bisnis. Namun, jika keinginan saja yang kuat, sampai kapan pun keinginan tetap hanya akan menjadi keinginan. Satu- satunya hal yang harus dilakukan adalah langsung bertindak atau bahasa keren-nya, langsung action.

Anda harus benar-benar mencintai ladang bisnis yang Anda tekuni. Niatkan untuk melakukan yang terbaik bagi bisnis Anda agar bisnis tersebut menjadi semakin besar nantinya. Tanamkan bahwa bisnis itu juga ibadah. Karena itu, kenapa harus takut berbisnis? Jika bisnis untung, banyak hal yang bisa kita syukuri. Artinya, kita bisa berbagi rezeki kepada orang lain. Namun, jika ternyata bisnis Anda gulung tikar, Tuhan pasti memiliki hitung-hitungan sendiri yang berbeda dengan matematika manusia. Jadi ikhlaskan saja, dan niatkan untuk bersedekah dari bisnis yang Anda jalankan, karena Tuhan berjanji akan membalasnya hingga berlipat-lipat. Ustad Yusuf Mansyur pernah mengatakan, sedekah yang ikhlas pasti akan dibalas oleh Tuhan, tinggal tunggu saja waktunya. Selama kita tetap berusaha dan berdoa, pasti Tuhan akan mengabulkan permohonan doa kita.

Tapi, bagaimana ya, memulai sebuah bisnis? Memang benar, bisnis itu berisiko, tetapi menurut guru bisnis yang mengajari saya berbisnis, Purdie E Chandra, lebih berisiko lagi jika kita tidak mulai berbisnis. Pola pikir bahwa bisnis berisiko sebenarnya muncul karena reaksi ketakutan kita untuk memulai terjun ke dunia bisnis. Kekhawatiran itu akan semakin menjadi besar apabila lingkungan kita menguatkan persepsi tersebut.

Kekhawatiran terhadap risiko bisnis bisa diibaratkan seperti api. Persepsi orang terhadap api adalah panas dan berbahaya karena bisa membakar apa pun yang disambarnya. Sebenarnya, api juga bisa menjadi sahabat kita. Api bisa sebagai cahaya, sebagai penerang, sebagai alat untuk memasak makanan, bahkan sebagai penghangat tatkala dingin. Hukum fisika pun menyatakan bahwa kita dapat mengendalikan api yang panas tersebut bila tahu caranya. Dengan cara tertentu, kita bisa mematikan api rokok dengan telapak tangan atau berjalan di atas bara api tanpa terbakar. Semuanya mungkin, asalkan tahu caranya. Begitu juga bisnis. Semua langkah yang kita ambil memiliki risiko, tetapi jika kita tahu cara mengatasinya, risiko dapat diminimalkan.

Banyak cara untuk mengenal bisnis. Dulu, dalam bayangan saya, bisnis adalah membuat, membeli, atau memiliki barang atau jasa dari orang lain, kemudian dijual lagi dengan menambahkan selisih keuntungan dan dari keuntungan tersebut, dikembangkan lagi untuk memperbesar bisnis. Ternyata, dari perjalanan yang saya alami dan ilmu yang saya dapat dari mentor-mentor saya, bisnis bukan sekadar memiliki atau membuat barang atau jasa kemudian menjualnya kembali. Di dalam bisnis ada yang namanya cash flow (perputaran uang masuk dan uang keluar), aset (harta atau nilai dari bisnis atau usaha kita), omset (besarnya pendapatan per hari, per bulan, atau per tahun), capital gain (kenaikan nilai aset seiring berjalannya waktu), profit (keuntungan, bukan hanya kelebihan uang, tetapi juga silaturahmi, networking, pengetahuan, pengalaman, dan peluang-peluang kerja sama), dan yang terakhir adalah leverage (pengembangan atau daya ungkit modal yang didapat dari pinjaman).

Dalam blog ini, saya mencoba mengupas bagaimana memulai bisnis dengan cara yang sederhana, tetapi mendapatkan hasil yang maksimal. Pernahkah Anda melihat berita di TV tentang perusahaan yang mengambil alih perusahaan lain? Sistem pengambilalihan sebuah perusahaan oleh perusahaan lainnya tersebut dikenal dengan istilah akuisisi. Namun, kita tidak akan membahas mengenai akuisisi di blog ini karena untuk melakukannya kita sepertinya harus melakukan transaksi dengan nilai yang besar. Kita akan belajar melakukan akuisisi dalam skala yang lebih kecil, yaitu bisnis take over. Bisnis ini dapat dilakukan oleh siapa saja, bahkan Anda yang belum pernah berbisnis sebelumnya. Modal bisnis take over hanya dua, yakni informasi dan kepercayaan.

Mengambil alih bisnis yang sudah ada dapat menghemat anggaran Anda dalam beriklan karena orang-orang sudah tahu tentang bisnis yang diambil alih dan Anda tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli aset dan perlengkapan lainnya. Anda juga akan mendapatkan keuntungan langsung karena memulai bisnis baru biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk memperoleh keuntungan.

Yang harus diperhatikan adalah bagaimana kita dapat melakukan proses take over dengan baik. Pergantian pemilik pasti akan menimbulkan berbagai penyesuaian, baik dari diri Anda maupun dari staf lainnya. Hal terpenting adalah bagaimana menjaga agar bisnis tersebut tetap berjalan dengan lancar sehingga konsumen tetap merasa nyaman. Tidak harus melakukan perubahan dan modal yang besar, melainkan gunakanlah cara yang tepat dan sesuaikanlah diri Anda dengan ritme usaha yang telah berjalan tersebut. Setelah menyesuaikan diri dengan bisnis tersebut, mulai aplikasikan ide-ide yang Anda miliki untuk pengembangan bisnis tersebut.

Di dalam blog ini, Anda juga akan dikenalkan dengan bagaimana memulai dan mengembangkan bisnis dengan cara berutang yang produktif. Dibahas juga pengaman-pengaman dalam bisnis take over, misalnya dengan aset-aset properti produktif, seperti rumah indekos dan kontrakan.

Bisnis take over memang memiliki beberapa keuntungan bila dibandingkan dengan memulai bisnis dari nol. Namun, dalam hal kerja keras, keduanya sama-sama membutuhkan tekad yang kuat dan pantang menyerah. Akan lebih bermanfaat lagi, setelah membaca blog ini Anda langsung melakukan action. Selamat membaca, dan saya tunggu cerita-cerita manisnya. Terima kasih.

akurat.me

Belum ada Komentar untuk "Bisnis itu beresiko"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel