Catatan dari lady lovelace

wowkece.me


Catatan dari lady lovelace


Demi mencari dukungan untuk Mesin Analitis, Babbage menerima undangan berpidato di hadapan Kongres Ilmuwan Italia di Torino. Yang berperan sebagai notulis adalah insinyur militer muda, Kapten Luigi Menabrea, yang kelak menjabat Perdana Menteri Italia. Dengan bantuan Babbage, Menabrea menerbitkan deskripsi detail mengenai mesin itu dalam bahasa Prancis pada Oktober 1842.

Salah seorang teman Ada menyarankan agar dia menerbitkan terjemahan artikel Menabrea lewat Scientific Memoirs , media berkala khusus makalah ilmiah. Ini peluang bagi Ada untuk membantu Babbage dan memamerkan bakatnya sendiri. Ketika artikel terjemahannya rampung, Ada memberi tahu Babbage, yang senang sekaligus terkejut. “Saya tanyakan apa sebabnya dia tidak menulis makalah orisinal saja, apalagi dia paham benar akan topik tersebut,” kata Babbage. 34 Ada menjawab bahwa tidak terpikirkan olehnya untuk menulis makalah orisinal mengenai Mesin Analitis. Pada zaman itu membuat makalah ilmiah untuk konsumsi publik tidak lazim bagi perempuan.

Babbage menyarankan agar Ada melengkapi artikel Menabrea dengan sejumlah “catatan”, proyek yang disambutnya dengan antusias. Dia mulai menggarap segmen berjudul “Catatan Penerjemah” (“Notes by the Translator”) sepanjang 19.136 kata, lebih dari dua kali lipat artikel asli Menabrea. Ditandatangani dengan inisial “A.A.L.”, singkatan Augusta Ada Lovelace, “Catatan” (“Notes”) ini ujung-ujungnya lebih terkenal ketimbang artikel Menabrea dan menjadikan sang penulis sebagai tokoh ikonik dalam sejarah ilmu komputer.

Sepanjang pengerjaan catatannya di griya pedesaan milik Lovelace di Surrey pada musim panas 1843, Ada dan Babbage rutin surat-menyurat. Pada musim gugur mereka bertemu berkali-kali sekembalinya Ada ke rumah di London. Dewasa ini muncul subspesialisasi akademik dan perdebatan panas yang dipicu wacana gender terkait siapa yang lebih banyak menyumbangkan pikiran ke dalam penulisan “Catatan”, Ada sendiri ataukah Babbage.

Dalam memoarnya, Babbage memberikan penghargaan atas besarnya peran Ada, “Bersama-sama kami membahas beragam ilustrasi yang mungkin perlu dibubuhkan. Saya mengusulkan beberapa, tetapi pilihan akhir berada di tangannya sendiri. Begitu pula dengan solusi aljabar untuk macam-macam persoalan, terkecuali yang menyangkut deret Bernoulli. Saya mengajukan diri untuk menyelesaikan yang satu itu supaya Lady Lovelace tidak usah repot-repot. Namun, dia lantas mengembalikan perhitungan itu untuk saya koreksi. Sebab, Lady Lovelace menemukan kesalahan besar di dalamnya.”

Di dalam “Catatan” itu, Ada menelaah empat konsep yang akan kembali dieksplorasi seabad mendatang, ketika komputer akhirnya lahir. Pertama, konsep mengenai mesin serbaguna yang bukan saja dapat mengerjakan satu tugas spesifik, melainkan juga diprogram berkali-kali untuk menyelesaikan rangkaian tugas tak terbatas. Dengan kata lain, Ada membayangkan komputer modern.

Konsep ini menjadi tema utama dalam “Catatan A”, yang menggarisbawahi perbedaan Mesin Selisih yang lama dengan mesin baru Babbage: Mesin Analitis. “ Mesin Selisih dirancang untuk menghitung fungsi Δ 7 u x = 0,” Ada memulai, sembari menjelaskan bahwa fungsi mesin tersebut untuk menyusun tabel kelautan. “Sebaliknya, Mesin Analitis dapat menghitung fungsi apa saja, bukan hanya satu fungsi spesifik.”

Setelah perbedaan ini jelas, Ada menerangkan bahwa Mesin Analitis dioperasikan dengan “memanfaatkan prinsip yang mula-mula dirancang oleh Jacquard, yaitu penggunaan kartu- kartu berlubang untuk menghasilkan tenunan brokat bermotif rumit”. Dibandingkan dengan Babbage, Ada jauh lebih menyadari pentingnya penggunaan kartu berlubang. Berkat inovasi tersebut, mesin bisa berfungsi layaknya komputer dewasa ini. Dengan kata lain, mesin yang serbaguna, alih-alih hanya bisa menyelesaikan satu persoalan aritmetika spesifik. Ada menjelaskan sebagai berikut.

Redaksional kalimatnya memang berbelit-belit, tetapi layak dibaca dengan saksama. Ada pada dasarnya menjabarkan esensi komputer modern. Dia pun membumbui konsep tersebut dengan paparan puitis. “ Mesin Analitis merajut pola-pola aljabar, sebagaimana mesin tenun Jacquard merajut kembang dan dedaunan,” tulisnya. Ketika membaca “Catatan A” (“Note A”), Babbage kegirangan dan tidak membuat satu koreksi pun. “Tolong jangan diubah,” katanya.

Konsep kedua Ada yang patut dicermati termuat dalam deskripsinya tentang mesin serbaguna. Ada menyadari mesin serbaguna bisa dimanfaatkan bukan hanya untuk menghitung angka dan menjalankan operasi matematika. Terilhami penggunaan aljabar dalam logika formal yang diajarkan oleh tutornya, de Morgan, Ada menegaskan bahwa pada prinsipnya Mesin Analitis bisa menyimpan, memanipulasi, memproses, dan menindaklanjuti apa pun yang dapat diekspresikan sebagai simbol, entah itu kata, logika, musik, ataupun yang lain-lain.

Untuk menjelaskan ide tersebut, Ada mendefinisikan apa tepatnya operasi komputer itu, “Kata ‘operasi’ mungkin perlu dijelaskan. ‘Operasi’ yang kami maksud ialah segala proses yang mengubah keterhubungan dua benda atau lebih, apa pun bentuk keterhubungan itu.” Ada menegaskan operasi komputer bukan saja dapat mengubah hubungan antarbilangan, melainkan juga hubungan antarsimbol yang memiliki keterkaitan logis satu sama lain.

“Operasi yang dimaksud dapat diterapkan pada hal-hal selain bilangan, asalkan hubungan benda-benda itu satu sama lain bisa diekspresikan secara abstrak menggunakan simbol.” Bahkan, secara teoretis, Mesin Analitis seharusnya bisa memainkan notasi musik. “Andaikan hubungan fundamental antara frekuensi titinada dan komposisi musik bisa diekspresikan ke dalam operasi simbolis formal, mesin tersebut mungkin saja menggubah musik yang kompleks secara ilmiah.” Contoh tersebut secara pas mengilustrasikan konsep Ada mengenai “sains yang puitis”: komposisi musik yang digubah secara ilmiah menggunakan mesin! Ayahnya tentu akan bergidik.

Pemahaman ini merupakan konsep inti yang menggerakkan abad digital: konten, data, atau informasi apa saja  musik, teks, gambar, bilangan, simbol, suara, video dapat diekspresikan dalam format digital dan dimanipulasi oleh mesin. Bahkan, Babbage luput memahami konsep ini seutuhnya; fokusnya tercurah semata-mata pada bilangan. Namun, Ada menyadari bahwa digit-digit pada gigi roda dapat merepresentasikan hal-hal selain kuantitas matematika.

Itu sebabnya, dia mampu menghasilkan lompatan konseptual dari mesin yang berfungsi sebagai kalkulator belaka ke mesin yang sekarang kita sebut komputer. Doron Swade, sejarawan komputer dengan bidang keahlian kajian mesin Babbage, menyatakan bahwa inilah salah satu warisan historis Ada Lovelace. “Andaikan kita menapis sejarah untuk mencari-cari suatu transisi, transisi itu dinyatakan secara eksplisit oleh Ada dalam makalah pada 1843,” kata Swade. 

Kontribusi Ada yang ketiga, dalam “Catatan G” (“Note G”), ialah uraian bertahap untuk mengerjakan proses yang dewasa ini kita kenal dengan istilah program komputer atau algoritme. Contoh yang dia gunakan berupa program untuk menghitung angka-angka dalam deret Bernoulli,* 3 deret tak hingga nan pelik yang berperan dalam teori bilangan.

Untuk menunjukkan bahwa Mesin Analitis dapat menghasilkan deret Bernoulli, Ada mendeskripsikan operasi-operasi secara berurutan dan membuat bagan yang menunjukkan tahap demi tahap pengerjaan tiap operasi oleh mesin. Lewat paparan ini, Ada berperan merancang konsep subroutine (instruksi berurut untuk mengerjakan tugas tertentu, misalnya menghitung kosinus atau mengalkulasi bunga majemuk, yang bisa disisipkan ke dalam program yang lebih besar jika perlu) dan recursive loop (instruksi berurut yang berulang terus-menerus).* 

Proses ini menjadi mungkin berkat kartu- kartu berlubang. Ada menjelaskan bahwa 75 kartu dibutuhkan untuk menghitung satu bilangan, kemudian tiap bilangan yang dihasilkan dimasukkan kembali ke dalam proses untuk menghitung bilangan berikutnya. “Ketujuh puluh lima ragam kartu yang sama kemudian dipergunakan kembali untuk menghitung angka berikut dan demikianlah seterusnya,” tulis Ada.

Dia membayangkan sebuah perpustakaan yang menyimpan subroutine - subroutine yang sering digunakan, sesuatu yang seabad kemudian dibuat oleh para penerus tongkat intelektualnya, termasuk para perempuan seperti Grace Hopper di Harvard serta Kay McNulty dan Jean Jennings di Universitas Pennsylvania. Selain itu, karena memungkinkan proses untuk melompati urut-urutan perintah, bergantung pada hasil sementara yang keluar, Mesin Analitis sekaligus meletakkan fondasi bagi proses yang sekarang kita kenal dengan istilah conditional branching atau percabangan kondisional, mengalihkan jalur instruksi apabila kondisi-kondisi tertentu dipenuhi.

Babbage membantu Ada menghitung deret Bernoulli, tetapi surat-surat di antara keduanya menunjukkan betapa seriusnya Ada mendalami detail terkecil sekalipun. “Saya dengan gigih memelototi dan menelaah proses pengurangan bilangan- bilangan Bernoulli, sampai jauh ke bawah,” tulis Ada pada Juli, beberapa minggu sebelum terjemahan dan catatannya dijadwalkan naik cetak. “Saya kalut sendiri karena terjerumus di tengah angka-angka memusingkan ini. Mustahil saya menyelesaikannya hari ini .... Saya tengah didera rasa linglung yang menakjubkan.”

Ketika perhitungannya rampung, Ada malah menambahkan kontribusi buah pikirannya sendiri: tabel dan diagram yang menunjukkan bagaimana tepatnya algoritme dimasukkan ke komputer, tahap demi tahap, termasuk di antaranya dua recursive loop . Tabel tersebut memuat daftar instruksi yang antara lain berisi register tujuan, operasi, dan komentar pribadinya detail yang niscaya tidak asing bagi coder C++ mana saja dewasa ini.

“Saya telah bekerja giat seharian ini dengan hasil memuaskan,” tulis Ada dalam surat untuk Babbage. “Anda pasti akan sangat mengagumi Tabel dan Diagram buatan saya. Keduanya saya buat dengan teramat hati-hati.” Berdasarkan semua suratnya, jelas bahwa Ada sendiri yang menyusun tabel itu; satu-satunya bantuan berasal dari sang suami yang tidak paham matematika, tetapi bersedia menebalkan tulisan pensil Ada dengan tinta. “Lord L bermurah hati menebalkan semua tulisan saya dengan tinta,” tulisnya dalam surat untuk Babbage. “Saya harus mengerjakan (instruksi dan perhitungan).”

Diagram inilah yang dilampirkan untuk menjabarkan proses rumit guna menghasilkan angka-angka deret Bernoulli dan menyebabkan para penggemar menjuluki Ada “ programmer komputer pertama di dunia”. Julukan ini barangkali kurang tepat. Babbage sendiri telah menguraikan lebih dari dua puluh proses yang secara teoretis bisa dikerjakan Mesin Analitis. Namun, tak satu pun uraiannya diterbitkan dan tidak ada penjelasan terperinci mengenai urut-urutan operasi yang dibutuhkan untuk mengerjakan proses tersebut.

Toh, rasanya tidak keliru apabila kita katakan bahwa algoritme dan deskripsi pemrograman detail untuk menghasilkan deret Bernoulli merupakan program komputer pertama yang diterbitkan di dunia. Dan, yang patut dicatat, inisial yang tertera di akhir makalah itu ialah singkatan nama Ada Lovelace. Satu lagi konsep signifikan yang Ada kemukakan dalam “Catatan”-nya mungkin akan mengingatkan kita pada cerita Frankenstein, yang dikarang oleh Mary Shelley selepas berakhir pekan dengan Lord Byron. Ada mempertanyakan konsep yang sampai saat ini masih merupakan topik metafisika paling menarik terkait komputer, yakni mengenai kecerdasan buatan: bisakah mesin berpikir?

Menurut Ada, tidak. Mesin seperti buatan Babbage dapat menjalankan operasi sesuai perintah, tetapi tidak mampu menelurkan ide atau niat sendiri. “ Mesin Analitis sama sekali tidak mempunyai inisiatif apa pun,” tulis Ada. “Mesin tersebut dapat mengerjakan apa saja yang kita perintahkan. Mesin tersebut dapat menuruti analisis buatan kita, tetapi tidak mampu memahami relasi ataupun kebenaran analitis.” Seabad berselang pernyataan ini akan disebut “Sanggahan Lady Lovelace” oleh sang pionir komputer: Alan Turing.

wowkece.me

Belum ada Komentar untuk "Catatan dari lady lovelace"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel