Howard Aiken adalah?

wowkece.me


Howard Aiken adalah?


Masih pada 1937, mahasiswa doktoral Harvard bernama Howard Aiken tengah berjuang mengerjakan perhitungan menjemukan untuk menggunakan kalkulator tesis fisika. Ketika dia melobi universitas agar membuat komputer lebih canggih untuk mengerjakan perhitungan, ketua departemennya menyinggung bahwa di loteng pusat sains Harvard tersimpan sejumlah roda kuningan dari alat berusia seabad yang sepertinya mirip dengan yang Aiken inginkan.

Saat melihat-lihat loteng, Aiken menemukan enam model Mesin Selisih Charles Babbage yang dibuat dan didistribusikan oleh putra Babbage, Henry. Aiken terkagum-kagum akan ide Babbage dan memindahkan roda-roda kuningan tersebut ke kantornya.

“Betul, kami punya dua roda Babbage,” kenangnya. “Roda-roda itulah yang nantinya saya ambil dan pasang di bodi komputer.” 17 Musim gugur itu, pada saat Stibitz sibuk menyiapkan peragaan di meja dapur, Aiken menulis memo sepanjang 21 halaman untuk pembimbingnya di Harvard dan para eksekutif IBM guna meyakinkan mereka agar mendanai mesin digital Babbage versi modern. “Hasrat untuk menghemat waktu dan kerja mental dalam mengerjakan perhitungan aritmetika, sekaligus untuk mengeliminasi kesalahan manusia, barangkali lahir berbarengan dengan lahirnya ilmu aritmetika itu sendiri,” demikianlah kalimat pembuka memonya.

Aiken melalui masa kanak-kanak yang berat di Indiana. Sewaktu umurnya 12 tahun, Aiken menggunakan tongkat perapian untuk melindungi sang ibu dari serangan ayahnya yang pemabuk dan suka menganiaya. Ayahnya kemudian meninggalkan keluarga tanpa uang sepeser pun sehingga Howard belia terpaksa putus sekolah saat kelas sembilan demi mencari nafkah dengan bekerja sebagai teknisi pemasang telepon.

Dia lalu mencari pekerjaan malam di perusahaan listrik lokal supaya bisa bersekolah teknik pada siang hari. Aiken memacu diri agar sukses, tetapi akibatnya dia menjadi seperti sipir galak, sifatnya meledak-ledak. 19 Harvard ternyata bimbang menyikapi proposal Aiken.

Kalkulator yang dia usulkan merupakan ide bagus, tetapi memberinya proyek yang lebih berkarakter praktis daripada akademis terkesan tidak bijaksana. (Di sejumlah kalangan Harvard, mengatai seseorang berwatak “praktis” daripada “akademis” merupakan bentuk penghinaan.) Yang mendukung Aiken adalah Presiden Harvard sekaligus Ketua National Defense Research Committee, James Bryant Conant, yang merasa sah-sah saja memosisikan Harvard sebagai bagian triumvirat akademisi-industri-militer. Kendati demikian, Departemen Fisika yang mewadahi Aiken lebih menekankan ilmu murni, bukan sains terapan.

Ketua departemen menyurati Conant pada Desember 1939, menyampaikan bahwa mesin hitung “akan sangat berterima apabila terdapat dana yang memadai, tetapi tidak serta-merta lebih berterima ketimbang proyek lain.” Sementara itu, komite dosen berkomentar mengenai Aiken, “Dia mesti diberi tahu bahwa aktivitas semacam itu tidak mendongkrak peluangnya untuk meraih jabatan profesor.” Akhirnya, Conant yang menang dan dia mengizinkan Aiken merakit mesin tersebut. 20 Pada April 1941, sementara IBM membuat Mark I sesuai dengan spesifikasi Aiken di laboratorium perusahaan di Endicott, New York, lelaki itu meninggalkan Harvard untuk mengabdi di Angkatan Laut AS. Selama dua tahun, dengan pangkat letnan, Aiken mengajar di Naval Mine Warfare School di Virginia. Seorang kolega menyebutkan, Aiken “bersenjatakan berbagai formula dan teori ala Harvard yang ruwetnya minta ampun”.

Padahal, di sekolah tersebut dia “hanya berhadapan dengan sekawanan orang udik bebal yang tidak bisa membedakan kalkulus dengan kue jagung”.

Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk memikirkan Mark I dan Aiken kadang-kadang berkunjung ke Endicott dengan pakaian dinas lengkap.

Ternyata ada untungnya Aiken mengabdi di ketentaraan. Awal 1944, saat IBM bersiap-siap mengirimkan Mark I yang sudah jadi ke Harvard, Aiken berhasil meyakinkan Angkatan Laut untuk mengambil alih pengembangan mesin itu dan menugasinya sebagai perwira penanggung jawab. Dengan demikian, Aiken tidak perlu repot-repot menghadapi birokrasi akademis di Harvard, yang masih enggan memberinya pekerjaan tetap.

Itu sebabnya, Harvard Computation Laboratory untuk sementara menjadi fasilitas milik Angkatan Laut dan anak buah Aiken terdiri atas personel AL yang bekerja berseragam. Aiken menyebut mereka “kru”, mereka memanggilnya “komandan”, sedangkan Mark I dipanggil “ she ”, seolah-olah mesin itu kapal kesayangan saja.

Mark I buatan Harvard meminjam banyak ide Babbage. Mesin tersebut digital, tetapi tidak biner; roda-rodanya bisa diputar ke sepuluh posisi. Di selot sepanjang lima belas meter terdapat 72 pencacah yang dapat menyimpan maksimal 23 digit angka, sedangkan produk jadi memiliki berat lima ton, tinggi hampir 25 meter, dan lebar 15 meter.

Selot dan komponen-komponen bergerak lainnya dinyalakan oleh arus listrik. Namun, mesin itu lambat. Alih-alih menggunakan relay elektromagnetik, mesin tersebut menggunakan sakelar mekanis yang dibuka tutup oleh motor listrik. Artinya, butuh kira-kira enam detik untuk menghitung perkalian, kontras dengan mesin Stibitz yang hanya butuh sedetik.

Kendati demikian, Mark I memiliki keunggulan yang akan menjadi ciri khas semua komputer modern: kerjanya otomatis. Program dan data dimasukkan menggunakan struk kertas, kemudian mesin itu bisa beroperasi sendiri selama berhari-hari tanpa campur tangan manusia. Wajar jika Aiken menyebut Mark I sebagai “impian Babbage yang menjadi nyata”.

wowkece.me

Belum ada Komentar untuk "Howard Aiken adalah?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel