J.C.R. LICKLIDER

himedik.me


J.C.R. LICKLIDER 


Dalam upaya mengetahui Bapak Internet, orang pertama yang pantas disorot adalah psikolog dan teknolog pendiam yang anehnya menawan, murah senyum, dan cenderung skeptis. Joseph Carl Robnett Licklider lahir pada 1915 dan dipanggil “Lick” oleh semua orang. Dia memelopori dua konsep terpenting yang mendasari Internet: 1) jaringan terdesentralisasi yang memungkinkan pendistribusian informasi dari dan ke mana saja, dan 2) antarmuka yang memfasilitasi interaksi langsung mesin-manusia. Selain itu, dia direktur sekaligus pendiri badan militer yang mendanai ARPANET, lalu kembali ke sana untuk masa jabatan kedua satu dasawarsa berselang ketika tengah diciptakan protokol untuk jaringan cikal bakal Internet. Menurut salah seorang mitra dan muridnya, Bob Taylor, “Dia adalah bapak dari semua itu.”

Ayah Licklider berasal dari keluarga petani Missouri miskin, tetapi kemudian menjadi wiraniaga asuransi sukses di St. Louis dan sesudah itu ketika Depresi Besar mengempaskannya menjadi pendeta Baptis di sebuah kota pedesaan kecil. Sebagai anak tunggal yang dimanja, Lick mengubah kamarnya menjadi pabrik-pabrikan pesawat terbang dan merakit ulang mobil-mobil rongsokan dibantu oleh sang ibu yang berdiri di samping sambil mengoperinya perkakas.

Walau demikian, dia merasa tidak leluasa tumbuh besar di area rural terpencil yang sarat dengan pagar kawat berduri. Dia pertama-tama kabur ke Universitas Washington di St. Louis dan, sesudah meraih gelar doktor di bidang psikoakustik (kajian mengenai cara manusia memersepsi bunyi), bergabung ke lab psikoakustik Harvard.

Karena kian lama kian tertarik pada hubungan antara psikologi dan teknologi, juga pada interaksi antara otak dan mesin, dia lantas pindah ke MIT untuk mendirikan program studi psikologi yang berbasis di Departemen Teknik Elektro. Di MIT Licklider bergabung dengan kelompok eklektik terdiri atas insinyur, psikolog, dan budayawan di lingkaran Profesor Norbert Wiener, teoretikus yang mempelajari kerja sama antara manusia dan mesin serta menggagas istilah sibernetika yang menjabarkan bagaimana suatu sistem, dari otak sampai mekanisme pembidik artileri, belajar lewat komunikasi, kontrol, dan umpan balik.

“Iklim intelektual di Cambridge sesudah Perang Dunia II bernas sekali,” kenang Licklider. “Wiener mengadakan acara kumpul-kumpul mingguan yang dihadiri oleh empat puluh, lima puluh orang. Mereka berhimpun bersama dan berbincang selama beberapa jam.

Saya salah seorang partisipan setia acara itu.” 13 Lain dengan sebagian kolega di MIT, Wiener meyakini strategi paling menjanjikan untuk sains komputer ialah merancang mesin yang bisa bekerja sama secara padu dengan benak manusia ketimbang menjadi pengganti otak manusia. “Banyak orang yang mengira mesin komputasi adalah pengganti kecerdasan dan akan mengurangi keharusan untuk mencetuskan pemikiran orisinal,” tulis Wiener.

“Menurut saya, bukan begitu.” 14 Semakin canggih sebuah komputer akan semakin dimanfaatkan untuk menjembatani pemikiran manusia yang imajinatif, kreatif, dan berlevel intelektual tinggi. Licklider turut menggadang-gadang pendekatan ini, yang kelak dia sebut “simbiosis manusia- komputer”. Licklider memiliki selera humor yang jail, tetapi bersahabat. Dia gemar menonton Three Stooges dan tidak bosan akan pelesetan yang kekanak-kanakan.

Terkadang, ketika seorang kolega hendak menyampaikan presentasi, Licklider diam-diam mengganti slide dengan foto wanita cantik. Untuk bekerja, dia selalu menyiapkan bekal berupa Coke dan permen dari mesin penjual otomatis. Dia juga sering membagikan cokelat batangan kepada anak-anaknya dan para mahasiswa kapan pun mereka membuatnya kegirangan.

Licklider terkenal penuh perhatian kepada para mahasiswa pascasarjana, yang kerap dia undang untuk makan malam di rumahnya di kawasan suburban Boston, Arlington. “Inti seluruh aktivitas dia adalah kolaborasi,” kata putranya, Tracy. “Dia berkeliling ke mana-mana untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dalam diri orang-orang, mendorong mereka supaya tidak gentar memecahkan persoalan.” Itulah salah satu penyebab ketertarikan Licklider pada jaringan. “Dia tahu bahwa untuk memperoleh solusi bagus, dibutuhkan kolaborasi antara orang-orang yang berjauhan. Dia gemar melacak orang-orang berbakat dan menghimpun mereka dalam satu tim.”

Akan tetapi, peluk kasih sayang Licklider tidak diberikan kepada orang-orang yang sok atau congkak (terkecuali Wiener). Ketika merasa seseorang melontarkan omong kosong, Licklider tidak sungkan berdiri dan mengajukan pertanyaan yang terkesan polos, tetapi menjebak. Beberapa saat berselang, begitu si pembicara sadar sudah terkena pukulan telak, barulah Licklider duduk kembali. “Dia tidak menyukai orang yang sok atau banyak lagak,” kenang Tracy.

“Dia tidak pernah bersikap kejam, tetapi akan dengan cerdik melibas lagak sok orang-orang.” Salah satu renjana Licklider adalah seni. Kapan pun bepergian, Licklider bisa menghabiskan berjam-jam di museum, terkadang menyeret kedua anaknya yang enggan. “Dia bisa tergila-gila, tidak pernah bosan,” kata Tracy. Kadang-kadang Licklider menghabiskan lima jam atau lebih di museum untuk mengagumi tiap sapuan kuas, menganalisis perpaduan warna yang membentuk kesatuan utuh dalam satu lukisan, dan coba mengambil pelajaran mengenai kreativitas dari karya seni tersebut. Dia mempunyai insting untuk mengenali bakat dalam segala bidang, baik seni maupun sains. Namun, dia merasa bakat mumpuni mudah dikenali lewat ekspresinya yang paling murni, semisal dalam sapuan kuas pelukis atau refrein merdu gubahan seorang komposer.

Licklider mengatakan bahwa dia mencari kreativitas yang serupa dalam desain komputer atau diri insinyur jaringan. “Dia mahir melacak jejak-jejak kreativitas. Dia sering kali mendiskusikan apa sebabnya orang bisa kreatif. Dia merasa mudah mengenali seniman yang kreatif maka dia berusaha lebih keras lagi supaya bisa mengidentifikasi kreativitas dalam diri insinyur juga, yang wujud kreativitasnya tidak sejelas sapuan kuas di atas kanvas.”

Licklider juga baik hati. Ketika bekerja di Pentagon kelak, menurut penulis biografinya, Mitchell Waldrop, Licklider melihat seorang wanita petugas kebersihan mengagumi lukisan cetak di dinding kantornya suatu malam.

Licklider merasa kecintaan terhadap seni membuatnya lebih intuitif. Dia bisa memproses informasi yang amat beragam dan mengidentifikasi polanya. Satu sifat lain, yang akan bermanfaat ketika dia turut menghimpun tim peletak batu fondasi Internet, ialah kegemaran berbagi ide tanpa ingin dipuja-puji sebagai penggagasnya. Saking tidak egoisnya, Licklider terkesan lebih senang membagi-bagikan ide daripada mengklaim hak milik atas ide yang tercetus di tengah percakapan. “Sekalipun berpengaruh besar dalam bidang komputasi, Lick tetap saja rendah hati,” kata Bob Taylor. “Korban guyonan favoritnya adalah dirinya sendiri.”

himedik.me

Belum ada Komentar untuk "J.C.R. LICKLIDER "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel