JOHN VINCENT siapa?

wowkece.me


JOHN VINCENT siapa?


Jauh dari Zuse dan Stibitz, seorang penemu lain pun sibuk bereksperimen dengan sirkuit digital pada 1937. Dari ruang bawah tanah di Iowa, pria tersebut menciptakan inovasi historis berikutnya: mesin hitung yang sebagian menggunakan tabung vakum. Dalam banyak aspek, mesin itu sebenarnya kurang canggih dibandingkan yang lain. Mesin tersebut tidak serbaguna, tidak bisa diprogram, terdiri atas sejumlah komponen mekanis bergerak yang lambat, dan sekalipun secara teoretis seharusnya bisa berfungsi kerjanya tidak andal. Walau begitu, John Vincent Atanasoff, yang dipanggil Vincent oleh istri dan teman-temannya, layak mendapat penghormatan sebagai pionir yang membuahkan komputer digital pertama dengan sebagian komponen berbasis elektronik.

Dia memperoleh ilham untuk membuat mesin tersebut saat sedang menyetir malam-malam pada Desember 1937. 28 Atanasoff lahir pada 1903.

Dia sulung dari tujuh kakak-adik, anak imigran Bulgaria dan wanita keturunan salah satu keluarga yang paling lama tinggal di New England. Atanasoff senior bekerja sebagai insinyur di pembangkit listrik New Jersey yang dikelola oleh Thomas Edison, kemudian memindahkan keluarganya ke kota pedesaan Florida di sebelah selatan Tampa. Saat berusia 9 tahun, ketika membantu sang ayah menyambungkan listrik ke rumah mereka di Florida, Vincent diberi jangka sorong Dietzgen. “ Jangka sorong itu makanan saya,” kenangnya.

Sejak kanak-kanak, dia sudah serius belajar logaritma dengan ketekunan yang terkesan agak sinting. Atanasoff menceritakan kembali masa kecilnya dengan nada tulus, “Bisakah Anda bayangkan anak laki-laki 9 tahun, yang mula-mula maniak bisbol, mendadak berubah total gara-gara pengetahuan tersebut?

Vincent belia yang pendiam, kreatif, dan cemerlang menamatkan sekolah menengah atas dalam waktu dua tahun dengan nilai A semua. Padahal, jumlah mata pelajaran yang dia ambil dua kali lipat daripada murid-murid lain. Di Universitas Florida dia kuliah teknik elektro dan gemar mengotak-atik ini itu dan sering menghabiskan waktu di lab mesin dan bengkel pengecoran milik universitas. Dia masih menggandrungi matematika dan saat tingkat satu pernah mempelajari pembuktian matematika dalam sistem biner. Kreatif dan percaya diri, dia lulus dengan indeks prestasi kumulatif tertinggi seangkatan.

Atanasoff menerima beasiswa untuk menempuh studi dan riset magister di bidang matematika dan fisika di Universitas Iowa dan, sekalipun belakangan diterima di Harvard, memutuskan untuk bertahan di Ames yang praktis merupakan kota pedalaman Amerika, yang lebih terkenal berkat produksi jagung daripada cendekiawannya.

Atanasoff kemudian melanjutkan ke program doktoral fisika di Universitas Wisconsin, meneliti polarisasi helium di medan listrik.

Di sana, sama seperti para pelopor komputer lain, termasuk Babbage, dia ingin mencari cara supaya perhitungan matematika yang itu-itu saja dapat dikerjakan secara lebih praktis dan cepat. Terbetik di benaknya untuk menciptakan komputer. Sekembali ke Universitas Iowa pada 1930 sebagai asisten profesor, Atanasoff memutuskan bahwa gelar akademik di bidang teknik elektro, matematika, dan fisika telah cukup membekalinya untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Ada konsekuensi dari keputusan Atanasoff untuk tidak bertahan di Wisconsin atau pindah ke Harvard atau universitas riset besar yang setara. Di Universitas Iowa, Atanasoff satu-satunya yang bekerja untuk menciptakan kalkulator anyar. Dia memang produktif dalam menghasilkan ide-ide segar. Namun, di sekelilingnya tidak ada orang yang mampu memberikan masukan atau membantu memecahkan tantangan teoretis ataupun teknis. Lain dengan sebagian besar inovator pada era digital, Atanasoff adalah penemu tunggal, memetik inspirasi selagi bermobil seorang diri dan berdiskusi dengan seorang mahasiswa pascasarjana yang menjadi asistennya. Akhirnya, kesendirian Atanasoff menjadi titik lemahnya.

Atanasoff mula-mula mempertimbangkan untuk membuat mesin analog; kegandrungan pada jangka sorong mengilhaminya untuk menciptakan semacam jangka sorong raksasa dari negatif film panjang. Namun, dia lantas menyadari perlu gulungan film beratus-ratus meter untuk memecahkan persamaan aljabar dengan akurasi sesuai kebutuhan.

Atanasoff juga membuat alat yang dapat membentuk gundukan parafin sehingga bisa menghitung persamaan diferensial secara parsial. Keterbatasan alat-alat analog ini akhirnya mendorong Atanasoff untuk lebih fokus menjajaki pembuatan alat digital. Kendala pertama yang dia pecahkan adalah penyimpanan angka di dalam mesin. Atanasoff menggunakan istilah memori untuk mendeskripsikan fitur ini. “Saat itu, saya hanya tahu sepintas mengenai karya Babbage dan tidak mengetahui dia menyebut konsep yang sama dengan istilah ‘simpanan’ .... Saya menyukai istilahnya dan barangkali, jika tahu, saya akan menggunakan istilah tersebut. Tetapi, saya juga menyukai istilah ‘ memori’ karena analoginya dengan otak.”

Atanasoff menelaah sejumlah alat yang mungkin bisa dijadikan perangkat memori: jarum mekanis, relay elektromagnetik, bahan magnetik kecil yang bisa dipolarisasi oleh arus listrik, tabung vakum, dan kondensor elektrik kecil. Yang kerjanya paling cepat adalah tabung vakum, tetapi harganya mahal. Jadi, Atanasoff memilih menggunakan kondensor yang kini kita sebut kapasitor yaitu komponen kecil dan tidak mahal yang bisa menyimpan muatan listrik, sekalipun hanya sebentar.

Keputusan tersebut dapat dipahami, tetapi mesin itu niscaya menjadi besar dan lambat karenanya. Kalaupun penjumlahan dan pengurangan dapat dikerjakan secara cepat berkat proses elektronis, proses penyimpanan dan pengambilan angka dari unit memori berjalan lambat, secepat laju perputaran silinder.

Begitu menetapkan komponen untuk unit memori, Atanasoff mengalihkan perhatian pada cara mengonstruksi unit aritmetika dan logika, yang dia sebut “mekanisme komputasi”. Atanasoff memutuskan unit tersebut mesti 100% elektronik; dengan kata lain menggunakan tabung vakum, sekalipun harganya mahal. Tabung-tabung itu akan berfungsi sebagai sakelar nyala-mati untuk menjalankan fungsi gerbang logika pada sirkuit yang bisa menjumlahkan, mengurangi, dan mengerjakan fungsi Boolean apa saja.

Keputusan itu lantas memunculkan jenis persoalan matematika teoretis sebagaimana yang sudah dia gemari semenjak kanak-kanak: sistem digitalnya mesti berbasis desimal, biner, ataukah yang lain? Sebagai maniak sistem bilangan, Atanasoff sempat menekuri banyak opsi. “Basis seratus pernah dianggap menjanjikan,” tulis Atanasoff dalam makalah yang tidak diterbitkan. “Kalkulasi menunjukkan basis yang secara teoretis menghasilkan kecepatan perhitungan tertinggi adalah e , basis natural.”

Namun, demi menyeimbangkan teori dengan terapan praktis, dia akhirnya memilih basis 2 alias sistem biner. Pada akhir 1937 basis biner dan bermacam ide lain berputar-putar di kepalanya, bagaikan keping-keping puzzle yang tidak mau “menyatu”.

wowkece.me

Belum ada Komentar untuk "JOHN VINCENT siapa?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel