Lady sebuah catatan

wowkece.me


Lady sebuah catatan 


Ada ingin karyanya dinilai sebagai makalah ilmiah yang serius dan bukan hanya lembar rilis untuk pers. Jadi, di awal “Catatan”, Ada menyatakan “takkan mengomentari” keengganan pemerintah untuk mendanai pekerjaan Babbage. Babbage ternyata tidak senang dan kemudian menulis pernyataan berisi kecaman terhadap pemerintah. Babbage ingin Ada melampirkan pernyataan itu ke “Catatan”, tanpa memuat namanya, tetapi menyebutnya opini Ada sendiri. Ada menolak. Dia tidak ingin karyanya tercemari.

Tanpa memberi tahu Ada, Babbage mengirimkan adendum secara langsung ke Scientific Memoirs . Tim editor memutuskan lampiran tersebut mesti diterbitkan secara terpisah dan menyampaikan agar Babbage “bertindak jantan” dengan membubuhkan namanya sendiri. Babbage bisa bersikap menawan jika sedang ingin, tetapi bisa juga menjadi pemarah, keras kepala, dan membangkang seperti sebagian besar inovator. Solusi yang diusulkan oleh tim editor malah membuat Babbage berang, lalu dia menyurati Ada untuk memintanya menarik makalah itu.

Kini giliran Ada yang geram. Menggunakan salam pembuka yang lazim dilontarkan antarsesama teman lelaki, Ada menulis, “Babbage yang Budiman ... mencabut terjemahan dan ‘Catatan’ saya (merupakan) tindakan yang tidak kesatria dan tak dapat dibenarkan.” Dia menutup surat itu dengan, “Yakinilah bahwa saya sahabat Anda; bahwa saya tidak mungkin membantu Anda melakukan perbuatan yang secara prinsipiil saya anggap keliru, juga merugikan diri sendiri.”

Tanggapan Ada atas perselisihan tersebut berupa surat aneh sepanjang enam belas halaman untuk Babbage, berisi kalimat-kalimat menggebu yang secara gamblang menggambarkan pasang surut emosi dan delusinya. Ada merayu sekaligus mengomeli Babbage, memuji dan mencelanya. Bahkan, Ada mengontraskan motivasi mereka berdua.

“Prinsip saya yang tak dapat ditawar-tawar ialah mendahulukan cinta pada kebenaran dan Tuhan daripada cinta pada ketenaran dan kejayaan,” Ada mengklaim. “Tetapi, Anda justru lebih mencintai ketenaran, kejayaan, dan penghormatan daripada kebenaran dan Tuhan.”

Ada menyatakan dirinya bukan saja akan meraih ketenaran, melainkan juga kemuliaan. “Saya mesti menambahkan bahwa saya piawai dalam menjelaskan dan menafsirkan Yang Mahakuasa berikut hukum-hukum-Nya ... saya akan merasa sangat tersanjung apabila dapat menjadi salah seorang nabi-Nya yang paling terkemuka.”

Setelah membeberkan dasar pemikiran yang bertele-tele, Ada mengusulkan kepada Babbage agar mereka menjalin kemitraan bisnis dan politik. Ada akan memanfaatkan koneksi dan kemampuan persuasinya untuk membantu Babbage merakit Mesin Analitis asalkan pria itu mengizinkannya mengontrol seluruh keputusan bisnis. “Saya beri Anda prioritas pertama untuk memanfaatkan jasa dan kepintaran saya,” tulis Ada. “Jangan gegabah dalam menolak tawaran saya.”

Surat itu tampak seperti rangkuman lembar kerja sama modal usaha atau atau surat perjanjian pranikah, lengkap dengan opsi pengajuan arbitrase. “Anda wajib menaati keputusan saya (atau keputusan siapa pun yang Anda tunjuk sebagai penengah bilamana kita bersilang pendapat) dalam seluruh perkara praktis,” Ada menyatakan. Sebaliknya, Ada berjanji akan “menyodorkan dua proposal serius dan eksplisit kepada Anda dalam waktu satu atau dua tahun”.

Surat tersebut akan terkesan mencengangkan apabila isinya berbeda dari sekian banyak surat lain yang dia tulis. Masalahnya, gaya penulisan seperti itu memang khas Ada. Surat di atas semata-mata menunjukkan betapa ambisi yang melangit terkadang membuatnya lupa diri. Namun, Ada layak dihormati sebagai seseorang yang sukses melampaui batasan bagi wanita aristokrat pada zamannya dan mengatasi masalah keluarga untuk secara tekun mendedikasikan diri demi memecahkan persoalan matematika yang pelik serta luput atau mustahil dikerjakan sebagian besar kita. (Deret Bernoulli saja niscaya membuat banyak orang kewalahan.)

Apalagi, hasil kerja kerasnya yang mengagumkan dalam membedah persoalan matematika dan buah pikirannya yang imajinatif itu lahir di tengah insiden Medora Leigh serta serangan penyakit yang menyebabkan Ada bergantung pada zat-zat opiat (varian opium) sehingga memperparah pasang surut emosinya. Ada menjelaskan pada akhir suratnya kepada Babbage, “Kawan yang budiman, jika Anda tahu betapa memilukan dan memedihkannya pengalaman saya, yang mustahil Anda pahami, Anda tentu akan merasa bersimpati kepada saya.”

Kemudian, setelah menyimpang sejenak untuk mengutarakan penggunaan kalkulus selisih bilangan bulat guna menghitung angka-angka Bernoulli, dia minta maaf karena “surat ini sayangnya kena noda tinta di mana-mana” dan menanyakan, “Sudikah kiranya Anda menggunakan jasa peri perempuan ini?”

Ada yakin Babbage akan menerima tawarannya untuk menjadi rekan bisnis. “Dia tahu pasti akan sangat menguntungkan apabila penaku menjadi abdinya, sekalipun aku juga mengajukan syarat-syarat yang berat,” tulis Ada dalam suratnya untuk sang ibu. “Jika dia menyetujui usulanku, aku barangkali bisa menjauhkannya dari kemelut dan mewujudkan mesinnya menjadi kenyataan.” 47 Namun, Babbage berpendapat bahwa lebih bijak untuk menolak. Babbage menemui Ada dan “menolak semua syarat”.

Meskipun tidak pernah lagi berkolaborasi di bidang sains, hubungan mereka ternyata tetap langgeng. “Pertemananku dengan Babbage lebih akrab ketimbang sebelumnya,” tulis Ada dalam surat untuk sang ibu pekan berikutnya. Selain itu, Babbage setuju menyambangi Ada di rumah pedesaan keluarga Lovelace bulan berikutnya dan dalam suratnya yang penuh kasih, menyebut Ada sebagai “Penyihir Bilangan” serta “Penerjemah tersayang yang sangat saya kagumi”.

Bulan itu, September 1843, terjemahan dan “Catatan” Lady Ada Lovelace akhirnya dimuat di Scientific Memoirs. Untuk sementara, Ada bisa sepuas-puasnya menikmati pujian dari para teman dan berharap, sama seperti mentornya, Mary Somerville, akan dianggap serius di ranah ilmiah serta sastra. Publikasi karyanya membuatnya merasa bak “seorang profesional seutuhnya”, kata Ada dalam surat untuk seorang pengacara. “Saya sungguh-sungguh telah memiliki profesi, sama seperti Anda .”

Akan tetapi, impian Ada akhirnya kandas. Babbage gagal memperoleh pendanaan, Mesin Analitis tidak pernah dibuat, dan dia meninggal dalam keadaan miskin. Kolaboratornya, Lady Lovelace, tidak pernah menerbitkan makalah ilmiah lagi. Dia justru kian terpuruk, larut dalam ketergantungan terhadap judi dan zat-zat opiat. Dia sempat berselingkuh dengan mitranya bermain judi, yang kemudian memerasnya sehingga Ada terpaksa menggadaikan permata keluarga.

Pada tahun terakhir hidupnya, Ada berjuang melawan kanker rahim yang menyakitkan diiringi perdarahan terus-menerus. Saat meninggal pada 1852, pada umur 36 tahun, Ada dikuburkan sesuai permintaan terakhirnya di makam desa di samping ayahnya, sang penyair yang tidak pernah dia kenal, yang meninggal saat seusia dengannya.

Revolusi Industri sejatinya berdasarkan dua konsep besar yang amat sederhana. Para inovator menggagas cara untuk mempermudah pekerjaan, yakni dengan memecah pekerjaan itu menjadi unit-unit tugas yang lebih kecil dan simpel, dapat dituntaskan di jalur perakitan. Kemudian, dipelopori industri tekstil, para penemu membuat alat-alat banyak di antaranya diberdayakan oleh mesin uap yang dapat menyelesaikan pekerjaan secara mekanis.

Babbage, yang mengembangkan ide Pascal dan Leibniz, berusaha menerapkan kedua proses tersebut untuk memproduksi hitungan sehingga menciptakan cikal bakal mekanisme komputer modern. Lompatan konseptual paling signifikan yang Babbage sumbangkan: bahwa mesin semacam itu dapat mengerjakan banyak proses daripada satu saja, menggunakan kartu- kartu berlubang untuk memprogram dan memprogram ulang kerjanya.

Ada mampu mengapresiasi keindahan dan arti penting ide tersebut, sekaligus menyumbangkan gagasan yang malah lebih menggairahkan: bahwa mesin semacam itu bukan saja dapat memproses angka, melainkan juga segala hal yang dapat diekspresikan dengan simbol.

Bertahun-tahun selepas wafat, Ada Lovelace digadang-gadang sebagai ikon feminisme dan pionir komputer. Contohnya, Departemen Pertahanan AS mendaulat bahasa pemrograman tingkat tinggi berorientasi objek dengan nama Ada.

Walau demikian, Ada juga dicemooh sebagai tukang khayal yang delusional, hanya sedikit berkontribusi dalam “Catatan” yang memuat inisialnya. Sebagaimana yang Ada tulis sendiri di dalam “Catatan”yang merujuk pada Mesin Analitis, tetapi bisa juga diterapkan bagi reputasinya sendiri yang kerap naik turun, “Pada kala menimbang-nimbang suatu subjek baru, terdapat kecenderungan untuk, mula-mula, melebih-lebihkan aspek yang kita anggap menarik atau luar biasa; yang selanjutnya diikuti dengan reaksi, barangkali secara instingtif, untuk meremehkan makna pentingnya.”

Nyatanya kontribusi Ada memang spektakuler sekaligus inspiratif. Lebih daripada Babbage ataupun orang lain sezamannya, Ada sanggup membayangkan masa depan, masa ketika mesin-mesin akan menjadi mitra bagi imajinasi manusia, bersama-sama merajut karya seindah anyaman mesin tenun Jacquard. Apresiasi terhadap potensi “sains yang puitis” mendorong Ada untuk menggadang-gadang penciptaan mesin serbaguna yang ditepis begitu saja oleh para pembesar sains pada zamannya. Dia juga mafhum bahwa alat semacam itu dapat digunakan untuk memproses berbagai jenis informasi. Demikianlah Ada, Countess of Lovelace, menaburkan benih era digital yang akan mekar seratus tahun kemudian.

wowkece.me

Belum ada Komentar untuk "Lady sebuah catatan "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel