NOLAN DAN ATARI

himedik.me


NOLAN DAN ATARI 


Sama seperti banyak mahasiswa sains komputer pada 1960-an, Nolan Bushnell menggilai Spacewar. “Permainan itu mengandung arti bersejarah penting bagi siapa pun yang mencintai komputer. Bagi saya, memainkan Spacewar merupakan pengalaman transformatif,” kenang Bushnell. “ Steve Russell bagaikan dewa di mata saya.” Perbedaan Bushnell dari para maniak komputer lain yang doyan memanipulasi titik-titik di layar ialah dia juga menggandrungi taman hiburan. Bushnell sempat bekerja di taman hiburan untuk membayar biaya kuliahnya. Selain itu, dia berpembawaan heboh khas wirausahawan, suka menghadapi tantangan dan mengambil risiko. Demikianlah, Nolan Bushnell kemudian berperan sebagai inovator yang mengubah satu temuan menjadi industri. 11 Sewaktu Bushnell baru 15 tahun, ayahnya meninggal.

Sang ayah berprofesi sebagai kontraktor bangunan di pinggiran Salt Lake City yang sedang berkembang, dan meninggalkan sejumlah pekerjaan yang belum rampung serta belum dilunasi oleh pemesan. Bushnell belia, yang berbadan besar dan berisik, menuntaskan seluruh pekerjaan, membuat keberaniannya kian membuncah. “Ketika kita mampu mengerjakan sesuatu seperti itu pada usia 15 tahun, kita menjadi yakin bisa melakukan apa saja,” katanya.

Watak nekat mendorongnya untuk menjadi pemain poker, tetapi untungnya karena kalah terus Bushnell terpaksa bekerja sambilan di Lagoon Amusement Park sembari kuliah di Universitas Utah. “Saya mengarang segala macam cara supaya orang-orang mau mengeluarkan recehan. Untung saja kemampuan itu ternyata bermanfaat.” 13 Dia segera saja dipromosikan ke bagian pinball dan dingdong, tempat video game balapan seperti Speedway, buatan Chicago Coin Machine Manufacturing Company, sedang tren. Bushnell mujur juga masuk ke Universitas Utah. Program studi grafis komputer di perguruan tinggi itu yang terbaik di Amerika Serikat, dipimpin oleh Profesor Ivan Sutherland serta Profesor David Evans, dan merupakan salah satu dari empat nodus pertama ARPANET, yang merupakan prekursor Internet.

(Alumni Universitas Utah misalnya Jim Clark, pendiri Netscape; John Warnock, salah seorang pendiri Adobe; Ed Catmull, salah seorang pendiri Pixar; dan Alan Kay, yang kisahnya akan diceritakan nanti.) Universitas ini memiliki PDP-1, lengkap dengan permainan Spacewar. Bushnell kemudian mengawinkan kecintaannya pada permainan itu dengan hitung-hitungan usaha dingdong. “Saya sadar kami bisa mendapat recehan segunung apabila menempatkan komputer yang dilengkapi game di arena dingdong,” katanya. “Kemudian, saya menghitung-hitung dan menyadari kalaupun kami mendapatkan segunung 25 sen per hari, jumlahnya takkan cukup untuk membeli komputer seharga jutaan dolar. Jadi, saya pun mengurungkan niat.”

Betul demikian, tetapi hanya untuk sementara. Selulus kuliah pada 1968 (“di urutan buntut”, dia sering menyombong), Bushnell bekerja di Ampex, yang membuat alat perekam. Dia dan seorang rekan kerjanya, Ted Dabney, terus menggodok rencana untuk mengubah komputer menjadi mesin dingdong. Mereka mempertimbangkan untuk mengadopsi Data General Nova, minikomputer sebesar kulkas berharga $4.000 yang dirilis pada 1969. Namun, setelah menghitung-hitung sampai jungkir balik, mereka berkesimpulan bahwa komputer itu kurang murah dan kapasitasnya kurang memadai sebagai mesin video game . Supaya Nova bisa mengakomodasi Spacewar, Bushnell mencari berbagai elemen permainan tersebut, seperti latar belakang bintang-bintang, yang bisa dimunculkan oleh sirkuit perangkat keras alih-alih kemampuan pemrosesan komputer. “Kemudian, saya mendapat gagasan cemerlang,” kenangnya.

“Bagaimana kalau kesemuanya dibuat oleh perangkat keras saja?” Dengan kata lain, Bushnell bisa mendesain sirkuit untuk mengerjakan tugas-tugas yang semula dikerjakan oleh program. Cara demikian akan lebih murah, tetapi di sisi lain permainan juga harus disederhanakan. Maka, Bushnell mengubah Spacewar menjadi permainan satu pesawat luar angkasa yang dikendalikan oleh pengguna lawan dua piring terbang sederhana yang dikontrol oleh perangkat keras. Yang juga dienyahkan ialah gravitasi matahari dan tombol “pintu ke mana saja” untuk menghilangkan diri. Meski demikian, permainan itu tetap menyenangkan dan dapat dibuat dengan biaya yang masuk akal. Bushnell menjual idenya kepada Bill Nutting, yang mendirikan perusahaan pembuat permainan dingdong bernama Computer Quiz . Sejalan dengan nama itu, perusahaan pun menamai permainan Bushnell dengan Computer Space.

Bushnell dan Nutting sangat cocok sampai-sampai Bushnell berhenti dari Ampex pada 1971 untuk pindah ke Nutting Associates. Selagi mereka mengerjakan konsol pertama Computer Space, Bushnell mendengar kabar bahwa dia mempunyai pesaing. Sepasang pecandu Spacewar lulusan Stanford bernama Bill Pitts dan sobatnya, Hugh Tuck, dari California Polytechnicmemutuskan untuk memodifikasi minikomputer PDP-11 menjadi mesin dingdong. Ketika mendengar ini, Bushnell mengundang Pitts dan Tuck untuk mengunjunginya. Mereka muak saat mendengar betapa Bushnell rela mengorbankan bahkan menghapus sejumlah elemen Spacewar semata-mata agar mesinnya bisa diproduksi dengan biaya lebih murah.

“Versi Nolan itu tinggal kerangka-kerangkanya saja,” kata Pitts geram. 15 Sebaliknya, Bushnell muak akan rencana mereka menggelontorkan $20 ribu untuk alat saja, termasuk satu PDP-11 yang akan berada di ruangan lain dan dihubungkan ke konsol dengan bermeter-meter kabel, sedangkan pengguna hanya akan dikutip sepuluh sen per permainan. “Saya terkejut karena mereka sama sekali tidak tahu apa-apa tentang model bisnis,” katanya. “Terkejut dan lega. Begitu saya melihat rencana mereka, saya langsung tahu bahwa mereka bukan saingan saya.”

Galaxy Game kreasi Pitts dan Tuck tampil perdana di kedai kopi perhimpunan mahasiswa Stanford, Tresidder, pada musim gugur 1971. Para mahasiswa mengerumuninya tiap malam bagaikan peziarah kuil. Namun, tak peduli berapa banyak koin yang dibayarkan untuk bermain, mustahil mesin itu impas. Akhirnya, bisnis Pitts dan Tuck gulung tikar. “Hugh dan saya sama-sama insinyur dan kami sama sekali tidak memperhatikan aspek bisnis,” Pitts mengakui.

Inovasi bisa disulut oleh bakat teknik seorang insinyur, tetapi harus dikombinasikan dengan keterampilan bisnis supaya dapat menggegerkan dunia. Bushnell bisa memproduksi permainannya, Computer Space, dengan biaya $1.000 saja. Computer Space tampil perdana beberapa minggu setelah Galaxy Game, di bar Dutch Goose di Menlo Park dekat Palo Alto, dan terjual sebanyak 1.500 unit. Bushnell memang wirausahawan ulung: inovatif, paham ilmu rekayasa, melek bisnis, dan tahu permintaan konsumen. Dia juga wiraniaga hebat. Seorang reporter yang bertemu dengannya di pameran video game Chicago menjabarkan, “Bushnell adalah orang berusia di atas 6 tahun yang paling antusias memaparkan sebuah permainan baru.”

Computer Space ternyata lebih populer di tempat nongkrong mahasiswa ketimbang di bar. Jadi, untuk ukuran mesin dingdong, Computer Space memang kalah sukses dengan pesaingnya, terutama mesin pinball. Namun, Computer Space nyatanya berhasil menggaet penggemar setia. Yang lebih penting, permainan itu mengembangkan industri baru. Arena dingdong, yang semula didominasi oleh perusahaan-perusahaan pinball berbasis di Chicago, akan segera mengalami transformasi berkat campur tangan para insinyur di Silicon Valley.

Tidak terkesan akan pengalaman di Nutting Associates, Bushnell memutuskan mendirikan perusahaan sendiri untuk meluncurkan video game berikutnya. “Bekerja di Nutting adalah pengalaman berharga karena dari sanalah saya belajar bahwa saya mustahil mengacau lebih parah ketimbang mereka,” kenang Bushnell.

Dia memutuskan menamai perusahaan anyarnya Syzygy, istilah yang sulit dilafalkan untuk mendeskripsikan keadaan ketika tiga benda langit berada segaris. Untungnya nama itu tidak dapat digunakan karena sudah didaftarkan oleh komune hippie pembuat lilin. Jadi, Bushnell memutuskan menamai usaha barunya Atari, meminjam istilah dari permainan dam Jepang, Go.

himedik.me

Belum ada Komentar untuk "NOLAN DAN ATARI "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel