Pendahuluan wowkece

wowkece.me


Pendahuluan wowkece


Pada 7 Januari 2015 pagi, Said dan Cherif Kouachi memaksa masuk ke kantor Charlie Hebdo di Paris. Dengan bersenjatakan senapan dan senjata lain, mereka membunuh sebelas orang dan melukai sebelas lainnya yang ada di dalam gedung itu. Saat kabur, mereka juga membunuh seorang polisi bernama Ahmed Merabet yang merupakan seorang Muslim. Menurut para saksi, ketika meninggalkan tempat kejadian, kedua pria bersenjata tersebut berteriak: “Kami telah membalaskan dendam Nabi Muhammad. Kami telah membunuh Charlie Hebdo!”

Empat hari kemudian, pada 11 Januari 2015, dua juta orang berdemonstrasi di sepenjuru Prancis dalam aksi nasional berslogan “Je Suis Charlie” atau “Saya Charlie”.

Kecaman terhadap serangan ini berdatangan dari para tokoh, organisasi, dan bangsa-bangsa Muslim di seluruh dunia. Muslim sama ketakutannya dengan yang lainnya. Di Prancis, banyak yang bergabung dengan aksi nasional ini dan memberi pernyataan, cuitan di Twitter, dan status Facebook untuk mendukung para korban.

Ancaman yang dipertontonkan oleh terorisme mendominasi laporan berita dunia selama berminggu-minggu. Media bahkan tak pernah kehabisan berita. Lebih jauh, peristiwa ini memperkuat stereotip bahwa “semua teroris adalah Muslim, dan semua Muslim adalah teroris” (kedua pernyataan ini benar-benar salah), mengalihkan semua pandangan mata pada aksi dua Muslim ini, dan menjauh dari kisah-kisah beragam dan penuh warna dari 1,6 miliar Muslim lain yang kebanyakan orang biasa.

Musim panas tahun itu, saat saya bertanya kepada saudara-saudara Muslim di seluruh dunia apa yang tengah mereka kerjakan pada hari penyerangan Charlie Hebdo , saya kebanjiran jawaban: kebencian akan serangan yang memuakkan tersebut, kemarahan atas pembunuhan yang dilakukan atas nama Islam, serta rasa frustrasi sebab semua Muslim disamaratakan sebagai teroris. Mereka terluka atas tuntutan untuk berdemonstrasi secara terang-terangan bahwa serangan tersebut “Bukan atas Nama Mereka” karena mereka tidak mengerti alasan mereka harus meminta maaf bagi orang yang tak ada hubungannya dengan mereka. Namun, mereka juga ingin tahu sejelasnya bahwa peristiwa ini benar-benar tak ada hubungannya dengan Islam yang sudah menginspirasi mereka. Mereka pun ingin memberikan penghiburan dan simpati bagi korban kejadian tersebut. Namun, ada suatu hal yang lebih kuat di balik emosi yang membuncah ini: para Muslim ini akhirnya diminta berbagi kisah mereka sendiri, menghubungkan perasaan mereka sendiri, dan mengekspresikan apa yang benar-benar mereka rasakan tanpa paksaan dan penghakiman.

Kisah-kisah yang disampaikan kepada saya tentang apa yang mereka lakukan pada 7 Januari 2015 menggambarkan potret Muslim yang beragam dan terperinci, yang berkebalikan dengan nukilan yang sudah mendominasi pembahasan tentang Muslim secara global.

Maleeha tengah mengikuti Peradilan Imigrasi di San Francisco mewakili seorang klien untuk kasus permohonan suaka seorang berkebangsaan Nepal, yang akhirnya dia menangkan. Nada di Aligarh, India, tengah menulis artikel tentang “Pengaruh Perang kepada Anak” untuk membahas dampak perang kepada anak-anak. Henna di Birmingham tengah merawat neneknya yang sekarat di rumah sakit. Sufian sedang menyiapkan sebuah seminar internasional mengenai toleransi dan harmoni antar- iman di Kuala Lumpur. Sale sedang berada di stasiun kereta api di Milan menjadi sukarelawan yang membantu dan memberikan penghiburan bagi para pengungsi Suriah.

Ada lebih banyak lagi cerita aktivitas sehari-hari. Henrietta tengah berada di Spanyol merayakan ulang tahun putrinya bersama teman-temannya. Sabina baru saja kembali ke Swedia dari liburan di Uni Emirat Arab dan Oman.

Yang paling mencolok adalah kisah-kisah betapa keras usaha generasi muda Muslim untuk membangun jembatan dan meraih tempat yang pantas bagi mereka dalam masyarakat modern, tetapi malah terjebak di antara tindakan keji para ekstremis yang mengaku bertindak atas nama Islam dan sentimen anti- Muslim yang kian kuat. Lina mengatakan bahwa dia saat itu sedang membahas kemungkinan Institut du Monde Arabe di Paris untuk mengadakan Pameran Fotografi Internasional “Menangkap Semangat Ramadan” yang akan menyoroti makna Ramadan melalui seni dan fotografi. Pembahasan itu dihentikan dengan sebuah peringatan tegas dari seorang perantara, bahkan bukan penyelenggaranya: “Waktunya tidak lagi tepat untuk mengadakan acara ini.” Lina menambahkan bahwa dia merasa tak ada waktu lain yang lebih tepat, bahwa orang-orang perlu tahu lebih banyak lagi, alih-alih menutupinya. Dan, adakah cara yang lebih baik untuk melakukannya selain melalui penggambaran positif dan inspiratif para Muslim di sepenjuru dunia yang tengah merayakan tradisi suci mereka?

Saat saya tumbuh pada ‘80-an dan ‘90-an di Inggris, saya merasa terbebani untuk menjelaskan mengenai Islam dan bahwa Muslim juga manusia sebagaimana orang-orang lain. Kami bergabung dengan kelompok yang lebih besar yang berjuang agar stereotip dan diskriminasi dihapuskan.

Jadi, untuk beberapa saat, rasanya menjadi seorang Muslim di desa global masa kini kian mudah. Namun, bagi banyak generasi muda Muslim, hari ini tampaknya lebih berat daripada masa-masa sebelumnya. Lebih dari sepertiga Muslim saat ini berusia di bawah 15 tahun, dan hampir dua pertiganya di bawah 30 tahun. Ini berarti mereka menghabiskan sebagian besar usia mereka di bawah bayang-bayang peristiwa 11 September 2001. Sedang dalam ruang lingkup yang lebih kecil, ada peristiwa-peristiwa yang menempatkan Muslim dalam penghakiman yang lebih jauh, misalnya Charlie Hebdo , pembunuhan seorang prajurit Inggris di Woolwich, London, dan pemenggalan kepala yang dilakukan ISIS. Di mana pun generasi muda Muslim ini berada, Amerika, Afganistan, atau Abu Dhabi, peristiwa-peristiwa ini berdampak pada sudut pandang dunia terhadap mereka, juga cara mereka memandang diri mereka sendiri.

Saya ingin mengetahui bagaimana rasanya menjadi Muslim masa kini bagi para anak muda ini di seantero dunia, juga bagaimana meningkatnya barometer keimanan mereka bisa beradaptasi dengan gambaran global yang lebih luas.

Jauh melampaui tajuk rencana tabloid, kisah daging halal, dan pengantin jihadis, apa yang memotivasi dan menginspirasi para Muslim muda ini? Apa yang membentuk hidup mereka dan apa artinya itu bagi kita semua? Bagaimana anak muda menunjukkan identitasnya selagi pamor agama semakin menurun, kekuatan politik dan ekonomi beralih ke arah timur, dan populasi Muslim masih muda dan kian berkembang? Semua ini bertentangan dengan latar belakang geopolitik yang tengah berlangsung untuk memerangi ekstremis keji dengan tafsir Islamnya sendiri di satu sisi, dan meningkatnya kebencian terhadap Muslim di tataran sosial, bahkan di tingkatan pemerintahan di sisi lain. Inilah beberapa pertanyaan yang saya cari jawabannya saat mulai menulis blog ini.

Bagaimanapun, pertanyaan-pertanyaan tersebut bagi saya merupakan langkah alamiah berikutnya dalam perjalanan saya mengeksplorasi keimanan, modernitas, dan identitas yang banyak diketahui orang, sejak saya mulai menerbitkan blog pertama pada 2009, Love in a Headscarf. Ini merupakan memoar blakblakan tentang perjalanan hidup seorang wanita Muslim Inggris di Britania Raya. Saya menceritakan kisah perjuangan identitas saya melalui sarana pencarian cinta. Saya sudah lelah melihat tumpukan cerita di rak toko blog mengenai wanita Muslim yang “tertindas” dan kemudian “diselamatkan”. Sampul-sampul blog semacam ini seragam dengan menampilkan gambar wanita bercadar (bahkan meski ceritanya sama sekali tidak berhubungan dengan cadar), berlatar belakang gurun pasir (bahkan meski ceritanya tidak berlatar Timur Tengah), dan unta yang terlihat muram dan sedih (ya, bahkan untanya terlihat sedih). Saya melihat blog ini dan berpikir, tak satu pun yang mewakili kisah saya, kisah rasa percaya diri dan nyaman dengan identitas saya sebagai Muslimah Inggris, tanpa dihadapkan pada konflik maupun perasaan tertekan. Maka, saya menjadi penulis blog karena tujuan utamanya adalah menceritakan kisah saya sendiri.

Membujuk industri penerbitan bahwa kisah tentang Muslim tak melulu berupa memoar memilukan merupakan tantangan tersendiri; sederhananya, mereka tak bisa percaya bahwa ada kisah positif, atau yang lebih penting bagi mereka sebagai bisnis, bahwa akan ada yang membelinya. Dunia penerbitan bagaimanapun merupakan perusahaan komersial. Walaupun begitu, penerbitan juga berperan sebagai penyaring kisah-kisah yang tersedia bagi kita mengenai dunia kita sehingga pilihan mereka inilah yang membentuk masyarakat kita. Inilah sebabnya saya sangat antusias blog ini, Generation M, bisa menyajikan sudut pandang baru dan sekumpulan kisah manusia agar menjadi pusat perhatian.

Pada akhirnya, Love in a Headscarf diterbitkan dengan sampul berwarna merah muda dan ungu menyala yang menggambarkan seorang wanita mengemudikan mobil kap terbuka melintasi kaki langit London (ya, itu saya). Sampul ini berhasil menangkap semangat pada zamannya, termasuk ide-ide saya bahwa saya tak hanya memiliki hak untuk menjadi Muslim yang menegakkan Islam, tetapi juga hak untuk merasa seperti dan menjadi orang Inggris, sekaligus menjadi bagian dari kehidupan modern. Bahkan, pada kenyataannya, memang seperti itulah hidup saya. Kisah yang percaya diri dan tanpa malu-malu dalam pencarian identitas modern yang beriman memang menarik, khususnya bagi begitu banyak generasi muda Muslim di seantero dunia yang akhirnya mampu memiliki seseorang yang menyuarakan keyakinan dan pengalaman mereka. blog ini sudah diterbitkan ke dalam sepuluh edisi dan bahasa berbeda di seluruh dunia dan mampu menduduki peringkat dua penjualan blog terlaris di India. Kini, lebih dari 7 tahun kemudian, hampir setiap hari saya masih mendapatkan pesan dari anak-anak muda Muslim yang mengatakan bahwa saya telah “menuliskan hidup mereka” dengan mengekspresikan kombinasi menjadi seorang Muslim yang taat sekaligus melebur dalam kehidupan modern, dan melihat bahwa kedua aspek kehidupan ini sesungguhnya saling melengkapi.

Saya sangat tersentuh dengan beberapa penghargaan yang kemudian diberikan kepada saya. Saya dimasukkan ke dalam 500 tokoh Muslim paling berpengaruh di dunia secara global, dan sebagai salah seorang dari 100 wanita Muslim paling berpengaruh di Britania Raya. Hal ini mengejutkan saya: menurut saya, saya semata menyampaikan kisah yang autentik dan jujur dalam menciptakan perubahan untuk membuat hidup dan dunia di sekitar saya lebih baik. Ini juga rupanya yang dirasakan Muslim dan pembaca lain dalam lingkup yang lebih luas. blog ini bukan mengenai saya, melainkan Generasi M. Bayangkan blog ini sebagai sebuah percakapan, serangkaian momen yang begitu lekat dengan generasi muda Muslim di seluruh dunia, yang sedang menyesap latte tengah malam di trotoar Jakarta, atau mengisap shisha di Edgware Road di London pada suatu sore musim panas yang sejuk. Beberapa berada di lokasi pengambilan foto di Istanbul yang trendi sembari mengarahkan model berkerudung untuk berpose di depan sebuah air mancur. Yang lainnya tengah melakukan pertunjukan komedi tunggal kecil-kecilan di kampung halamannya di Indonesia. Bergabunglah dengan mereka saat tengah berbelanja pakaian pada Ramadan di DKNY Dubai atau memanjakan diri dengan jajanan halal yang langka di pasar malam di California.

Antusiasme dan semangat hidup mereka menular. Obrolan mengenai cinta, seks, dan berbelanja sama hangatnya dengan obrolan mengenai haji, shalat, dan hijab. Ada juga lelucon: kalau nama anakmu Jihad, jangan sampai kehilangan dia di bandara kau tak akan pernah bisa memanggil namanya. Ada juga refleksi diri, debat, dan keseriusan yang kuat dalam pernyataan-pernyataan: Not in My Name, Je Suis Muslim, #AsAMuslimWoman .

Ogilvy & Mather, salah satu agensi komunikasi dan pencitraan ternama dunia, mencoba mengeksplorasi ide bahwa ada konsumen Muslim global dengan karakteristik yang sama di seluruh dunia.

Kami mengadakan survei di empat negara mayoritas Islam dalam berbagai tahapan siklus ekonomi berbeda Arab Saudi, Mesir, Pakistan, dan Malaysia kemudian menguji penemuan ini di sejumlah tempat dengan populasi mayoritas dan minoritas Muslim lainnya. Seberapa penting keimanan mereka? Bagaimana sikap mereka terhadap dunia modern? Bagaimana mereka mengarahkan posisi mereka di dalamnya?

Apa yang kemudian kami temukan adalah sekelompok generasi muda Muslim yang terikat oleh cara memandang dunia yang penting: bahwa keimanan dan modernitas bisa berjalan beriringan. Keimanan mereka tentu memengaruhi apa pun yang mereka lakukan, dan mereka percaya hal ini bisa menjadikan modernitas lebih baik. Mereka sepenuhnya melebur dalam kehidupan modern dan mengambil manfaat bagi kebaikan individu dan masyarakat, sekaligus meningkatkan keimanan mereka.

Definisi kelompok berpengaruh beserta keunggulannya yang terus meningkat ini begitu kuat dan jelas, hingga kian penting pula memiliki organisasi dan merek yang mampu mengidentifikasi dan menjangkau kelompok ini. Pada akhirnya, Ogilvy & Mather mendirikan agensi tempat saya bekerja di bawah naungannya, yang disebut Ogilvy Noor. Noor berarti ‘cahaya’ dan dalam fondasi pendirian kami, kami menyebutkan mengenai “mencurahkan cahaya kepada konsumen Muslim yang baru”.

Ogilvy Noor adalah konsultan pencitraan dan komunikasi dunia pertama yang memberikan layanan penuh yang berhubungan dengan audiensi Muslim. Penemuan kami kian lengkap dengan riset lebih lanjut mengenai sikap Generasi M terhadap kategori merek dan produk global. Dan, sekarang blog ini didesain berdasar pada kerja rintisan kami dengan menawarkan percakapan berkualitas serta mendalam bersama Generasi M agar kami benar-benar bisa mendengar apa yang ingin mereka sampaikan. Harapan saya adalah blog ini menjadi tolok ukur sepadan yang segar, menggugah, dan menarik, juga mampu menciptakan lompatan ke depan terkait pemahaman akan Muslim modern yang taat.

Kebanyakan analisis mengenai sikap dan perilaku Muslim berfokus pada peran kepercayaan Islam dan ideologi politik yang mendasarinya. Survei-survei yang ada menginterogasi Muslim mengenai opini religius mereka tentang kekerasan, bom bunuh diri, dan posisi wanita dalam masyarakat Islam, atau bagaimana seharusnya Muslimah berpakaian. Memang ada beberapa publikasi arus utama berharga mengenai pengalaman menjadi generasi muda Muslim di luar topik politik dan teologi.

Itulah yang membuat blog ini berbeda: isinya berupa pengalaman dan sikap Muslim beserta kisah mereka yang diangkat dalam bahasa mereka sendiri. Tujuan saya adalah mengangkat warna-warni suara identitas baru ini yang terus-menerus kami temukan di seluruh dunia, yang beranggapan bahwa keimanan dan modernitas tidaklah eksklusif dan bagaimana keduanya bisa membuat Generasi M menjadi manusia yang lebih baik.

Kualitas interaksi kami dengan bagian kemanusiaan ini bergantung pada pemahaman akan sikap Generasi M dan pengaruh mereka yang masih timpang pada populasi ( umat Muslim) yang lebih luas. Ini bahkan lebih genting mengingat kecenderungan peristiwa global saat ini. Ada juga sejumlah sudut pandang kuantitatif mengenai alasan kelahiran generasi ini sudah saatnya diteliti dan perlunya mengenal mereka, baik untuk alasan komersial, politik, maupun sosial.

Di 81 negara, populasi Muslim-nya akan melampaui angka satu juta. Enam dari negara Next 11 dengan pertumbuhan ekonomi terpesat adalah negara mayoritas Islam dan dua lainnya memiliki minoritas Muslim yang cukup besar. Negara BRIC (Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok) akan menjadi rumah bagi tak kurang dari 300 juta Muslim. Populasi minoritas Muslim akan mencapai 500 juta orang. Negara-negara yang bukan mayoritas Muslim tetapi memiliki populasi Muslim yang besar sering kali berada di wilayah dengan sejarah interaksi Muslim yang panjang dan memahami dinamika keberadaannya di antara negara- negara Islam.

Pada saat populasi Barat mulai menua, populasi Muslim masih muda dan terus berkembang. Pada 2010, Muslim memiliki median usia termuda, 23 tahun, di antara kelompok agama lain 7 tahun lebih muda dari median usia non- Muslim yang berada pada usia 30 tahun. Tingkat kesuburan Muslim juga lebih tinggi, 3,1 versus 2,3, dan tingkat yang lebih tinggi ada di antara populasi mayoritas dan minoritas Muslim.

Pada 2010, hampir dua pertiga populasi Muslim dunia 63% berusia di bawah 30 tahun. Ini berarti satu miliar orang yang mewakili lebih dari 14% populasi dunia. Usia bukan satu-satunya kekhawatiran populasi Barat: di hadapan mereka, ekonomi terus menurun dan pengaruh ekonomi secara bertahap beralih ke arah dunia Islam dan Timur. Negara-negara seperti Indonesia dan Turki secara teratur masuk ke dalam jajaran atas prediksi pertumbuhan global.

Pertumbuhan ini merupakan akibat dari besarnya sumber daya tenaga kerja dan populasi anak muda yang bisa menciptakan peluang untuk perubahan dinamika yang digambarkan angka-angka di atas. Mereka juga meletakkan dasar bagi tantangan sosial yang dipicu oleh banyaknya anak muda yang mencoba meneguhkan posisinya di masyarakat. Dalam tingkatan komersial dan kreatif, tanda-tanda pengaruh Generasi M dalam masyarakatnya dan dunia secara keseluruhan terlihat jelas. Gagasan pencitraan islami membangun bisnis, produk, dan merek untuk menjangkau konsumen Muslim juga memiliki daya tariknya sendiri; industri makanan dan gaya hidup halal diperkirakan sebesar $1,8 triliun pada 2014 dan diprediksi akan terus meningkat hingga $2,6 triliun pada 2020, dan secara berurutan, keuangan Islam meningkat hingga $1,3 triliun dan $2,6 triliun.

Kegembiraan optimistis dari gerakan Arab Spring mungkin telah dinodai oleh perang sipil dan kekuatan militer yang mengerikan, tetapi tak perlu diragukan bahwa Generasi M telah meraih kesempatan yang diberikan kepada mereka untuk memercayai pemimpin mereka dan memperjuangkan transformasi politik.

Lebih spesifik dalam angkanya, kelas menengah Muslim dengan kekayaan yang lebih besar dan selera yang lebih tinggi sekaligus kebanggaan atas agama mereka, tampaknya naik tiga kali lipat dari perkiraan sebanyak 300 juta pada 2015 menjadi 900 juta pada 2030 meski angka ini masih merupakan perkiraan kasar. Kelas menengah Muslim mendorong ledakan produk dan layanan yang ditujukan untuk memenuhi selera Muslim, tetapi pada saat yang sama mereka diidentifikasi berperan sebagai benteng melawan ekstremisme Muslim yang keras.

Di balik semua perubahan komersial, sosial, dan demografis tersebut, bagaimana seharusnya kita berhubungan dengan populasi yang begitu besar ini? Bagaimana seharusnya kita berkomunikasi, dan apa dampak yang akan mereka berikan pada dunia kita? Riset kami telah menemukan bahwa Generasi M merupakan segmen populasi Muslim global yang paling berpengaruh. Ide mereka menjadi pionir, baik di antara Muslim maupun masyarakat yang lebih luas. Dan, dengan demografis muda mereka, pengaruh ini akan terus tumbuh. Mereka akan membentuk dan mengarahkan masa depan populasi Muslim yang lebih luas, dan lebih jauh lagi, akan memberikan dampak signifikan di tataran global.

Tidak semua Muslim merupakan bagian dari Generasi M. Kami berfokus pada sebagian kecil dari 1,6 miliar Muslim yang memiliki kesamaan karakteristik, yaitu mereka yang percaya akan iman sekaligus modernitas. Lawan mereka mungkin bisa disebut kaum Tradisionalis. Kaum ini lebih konservatif secara sosial, percaya bahwa harmoni harus dijaga, dan lebih menghormati otoritas, juga sebagaimana namanya, berusaha memegang teguh apa yang mereka lihat sebagai elemen yang baik dari keluarga, komunitas, dan tradisi.

Saya telah mengizinkan tokoh utama Generasi M mengambil alih panggung dalam menceritakan kisah ini, juga mencoba menawarkan sebanyak mungkin suara mereka. Saya menggunakan nama depan mereka, bahkan ketika biasanya nama keluargalah yang digunakan lagi pula, ini adalah obrolan pribadi minus formalitas, sekadar berbagi dengan hati.

Tiap bab dalam blog ini membahas aspek berbeda dari sikap dan perilaku mereka, budaya baru yang mereka ciptakan, dan tren yang mereka rintis. Di beberapa subjek, saya melihat lebih dekat, khususnya saat membahas wanita dan populasi minoritas Muslim sebab inilah subjek yang terus-menerus muncul dan karena itu membutuhkan perhatian lebih besar. Jikalau keseluruhan bab ditujukan untuk menawarkan pengenalan menyeluruh mengenai Generasi M, tiap babnya juga ditulis untuk bisa berdiri sendiri bagi para pembaca yang tertarik pada subjek tertentu. Untuk alasan ini, terkadang satu poin bisa jadi lebih ditekankan dibanding yang lainnya.

Kisah-kisah dalam blog ini nyata, dengan para pencerita kita berada di garis depan. Kalimat saya sekadar bertindak sebagai pemandu melalui dunia yang penuh warna, beragam, dan cerah ini. Untuk itu, saya mengutip bacaan akademis dan teorinya sesedikit mungkin. Sama halnya, saya juga berusaha mengutip blog agama dan teologi sesedikit mungkin. Anda bisa menemukan banyak penjelasan religius di blog lain, dan apa yang kami coba lakukan di sini adalah berfokus pada apa yang orang lakukan, ketimbang apa yang tertulis di kitab-kitab referensi. Saya sudah menghilangkan beberapa terminologi yang mungkin biasanya digunakan Muslim untuk menggambarkan tokoh seperti Nabi Muhammad, kecuali penceritanya menyebutkan sendiri. Kebanyakan dalam bahasa Arabnya (Saw.) atau yang sepadan dalam bahasa Inggris (PBUH), yang sama-sama berarti “Kedamaian atasnya”. Ini semata demi kesederhanaan teksnya. Saya menggunakan istilah religius yang biasa digunakan dalam keseharian Generasi M sendiri. Saya juga mengutip dari internet dan media sosial untuk mendengar para pahlawan kita berbicara pada dunia sebab platform inilah yang memainkan peran penting dalam identitas dan ekspresi diri mereka.

blog ini merupakan usaha pencarian seorang profesional yang penasaran dan tertarik untuk mengenal sekelompok orang yang akan berdampak besar bagi masa depan kita. Namun, ini juga merupakan perjalanan pribadi untuk mengetahui apa artinya menjadi pionir Muslim muda modern saat ini. Apa harapan mereka? Apa yang membuat mereka putus asa? Apa yang mereka ingin dunia tahu tentang mereka? Barangkali dua pertanyaan paling besar yang bisa kita ingat selagi kita memulai perjalanan bersama adalah: Apa yang Generasi M ingin sampaikan kepada kita dan setelah kita mengenal mereka apa yang harus kita lakukan untuk bisa berhubungan dengan mereka?

wowkece.me

Belum ada Komentar untuk "Pendahuluan wowkece"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel