PONG

himedik.me

PONG 


Pada hari ketika Atari disahkan sebagai perusahaan terbatas, 27 Juni 1972, Nolan Bushnell mempekerjakan insinyurnya yang pertama. Al Alcorn, yang berasal dari daerah keras di San Fransisco, menjadi pemain football semasa SMA dan belajar reparasi TV secara autodidak lewat kursus jarak jauh dari RCA. Di Berkeley dia turut serta dalam program kuliah kerja nyata yang mengantarnya ke Ampex, bekerja di bawah Bushnell.

Alcorn lulus tepat saat Bushnell tengah mendirikan Atari. Banyak kemitraan kunci pada era digital terjalin di antara pasangan berbeda keterampilan dan kepribadian, seperti John Mauchly dengan Presper Eckert, John Bardeen dengan Walter Brattain, Steve Jobs dengan Steve Wozniak. Namun, terkadang kemitraan berlangsung mulus dan padu karena kesamaan kepribadian dan minat, sebagaimana dalam kasus Bushnell dan Alcorn.

Mereka sama-sama gempal, suka bersenang-senang, dan kurang ajar. “Al termasuk orang yang paling saya sukai di dunia,” tegas Bushnell lebih dari 40 tahun kemudian. “Dia insinyur yang sempurna dan juga kocak, jadi dia cocok sekali untuk mengembangkan video game .” 19 Saat itu, Bushnell terikat kontrak guna membuat video game baru untuk perusahaan di Chicago, Bally Midway. Dia berencana membuat permainan balap mobil, yang sepertinya lebih menarik daripada game navigasi pesawat luar angkasa bagi para peminum bir di bar kelas pekerja.

Namun, sebelum mengoperkan tugas itu kepada Alcorn, Bushnell memutuskan memberinya pemanasan. Dalam pameran industri game , Bushnell sempat mengecek Magnavox Odyssey, konsol primitif untuk memainkan video game di televisi. Di sana tersedia permainan semacam pingpong. “Menurut saya, permainan itu butut,” kata Bushnell bertahun-tahun berselang sesudah dirinya dituntut atas pencurian ide. “Tidak ada suaranya, tidak ada skornya, sedangkan bolanya segi empat. Tetapi, saya perhatikan sebagian orang suka memainkannya.”

Sekembali ke kantor sewaan Atari di Santa Clara, Bushnell memaparkan permainan itu kepada Alcorn, membuat gambar kasar sirkuit, dan memintanya merakit game pingpong versi dingdong. Bushnell berbohong kepada Alcorn bahwa dia sudah menandatangani kontrak dengan GE untuk membuat permainan tersebut. Sama seperti banyak wirausahawan, Bushnell tidak malu-malu mendistorsi kenyataan dalam rangka memotivasi orang. “Saya pikir tugas itu bagus buat Al, untuk latihan.” 20 Alcorn menyelesaikan purwarupa awal September 1972, dalam waktu beberapa minggu saja. Supaya permainan tidak monoton, dia membubuhkan sejumlah fitur ekstra. Dalam versi Alcorn, misalnya, ketika membentur bagian tengah bet, bola akan terpantul lurus; tetapi apabila mengenai ujung bet, bola itu akan terpantul menyiku.

Dengan demikian, permainan menjadi lebih menantang dan membutuhkan taktik. Alcorn juga menciptakan papan skor. Dan, dengan genius, dia menambahkan bunyi “bong” yang pas—menggunakan generator sinyal ketika bola mental sehingga permainan tersebut semakin mirip pingpong sungguhan. Menggunakan televisi Hitachi hitam-putih seharga $75, Alcorn merakit komponen-komponen menjadi satu di dalam lemari kayu setinggi 1,2 meter. Seperti Computer Space, permainan ini tidak mempergunakan mikroprosesor atau menjalankan program komputer; semuanya dikerjakan oleh perangkat keras yang tipe desain logika digitalnya mirip televisi. Kemudian, Alcorn menempelkan kotak koin bekas yang diambil dari mesin pinball dan lahirlah bintang baru.

Bushnell menamainya Pong. Salah satu aspek terhebat Pong adalah kesederhanaannya. Computer Space membutuhkan instruksi kompleks; di layar pembukanya, tercantum banyak sekali petunjuk (contohnya, “tiada gravitasi di ruang angkasa; kecepatan roket hanya bisa diubah menggunakan daya dorong mesin”), yang bahkan bisa membingungkan seorang insinyur komputer. Sebaliknya, Pong yang simpel bisa dimainkan oleh pelanggan tetap bar atau mahasiswa yang teler sesudah minum bergelas-gelas bir. Instruksi permainan hanya satu, “Pukul bola dengan bet untuk mendapatkan skor tinggi.” Sadar atau tidak, Atari telah menjawab salah satu tantangan rekayasa terpenting pada era digital: keharusan menciptakan antarmuka pengguna sesederhana dan seintuitif mungkin.

Saking puasnya dengan kreasi Alcorn, Bushnell memutuskan permainan itu mesti dijual. “Saya berubah pikiran begitu sadar bahwa permainan tersebut betul-betul asyik ketika kami menjadi sering memainkannya sejam atau dua jam sehabis kerja tiap malam.”

Dia terbang ke Chicago untuk membujuk Bally Midway agar menerima Pong sebagai pemenuhan kontrak mereka. Namun, perusahaan itu menolak dan bersikukuh menginginkan game balap mobil. Bally Midway rupanya enggan dengan video game yang membutuhkan dua pemain. Atari justru mujur karena Pong ditolak.

Untuk menguji permainan itu, Bushnell dan Alcorn menempatkan purwarupa Pong di Andy Capp’s, bar yang lantainya dikotori kulit kacang dan sisi belakangnya dipenuhi oleh deretan pemain pinball di Kota Sunnyvale, yang didominasi oleh kelas pekerja. Setelah beberapa hari, Alcorn memperoleh telepon dari manajer bar yang mengeluh karena mesin permainannya mati. Alcorn diminta datang secepat mungkin untuk memperbaiki mesin karena permainan itu ternyata luar biasa populer. Alcorn pun buru-buru kesana.

himedik.me

Belum ada Komentar untuk "PONG "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel