Sains yang puitis

wowkece.me


Sains yang puitis


Mei 1833, sewaktu usianya 17 tahun, Ada Byron termasuk salah seorang perempuan muda yang, sesuai tradisi saat itu, diperkenalkan di lingkungan istana Inggris. Keluarganya sempat cemas kalau-kalau Ada tidak bisa membawa diri karena wataknya yang emosional dan independen. Namun, menurut sang ibu, gadis itu ternyata bersikap “lumayan sopan”. Dari sekian banyak orang yang Ada temui malam itu, dua di antaranya adalah Duke of Wellington, yang sifat blakblakannya dikagumi oleh gadis tersebut, dan Duta Besar Prancis berumur 79 tahun, Talleyrand, yang dia juluki “monyet tua”. 

Sebagai anak sah satu-satunya dari pujangga Lord Byron, Ada mewarisi jiwa romantis ayahnya. Konon untuk memperlunak sifat tersebut, ibunya menyuruh dia belajar matematika. Demikianlah, Ada tumbuh besar dengan kecintaan terhadap “sains yang puitis”, istilah rekaan imajinasinya yang liar untuk menggambarkan betapa indahnya angka-angka. Bagi banyak orang, termasuk ayahnya sendiri, sentimen Romantisisme yang berkelas tidak dapat diakurkan dengan semangat pasaran tekno-industri era Revolusi Industri. Walau begitu, Ada rupanya merasa nyaman di persimpangan kedua zaman.

Alhasil, tidaklah mengherankan jika kunjungan perdana Ada ke istana yang glamor ternyata kurang berkesan ketimbang kehadirannya beberapa minggu berselang dalam acara penting lain di London, ketika berjumpa dengan Charles Babbage, duda 41 tahun yang merupakan ilmuwan dan matematikawan termasyhur serta terpandang di kalangan atas London. “Ada lebih senang dalam pesta yang dia hadiri pada Rabu ketimbang saat berada di tengah-tengah para aristokrat,” ibunya bercerita kepada seorang teman. “Di sana dia bertemu sejumlah tokoh sains salah seorangnya adalah Babbage, yang sangat dia sukai.” 

Arisan mingguan Babbage, yang bisa dihadiri sampai tiga ratus tamu, mempersatukan para bangsawan yang mengenakan jas berekor dan para wanita terhormat bergaun brokat dengan penulis, industrialis, penyair, aktor, negarawan, penjelajah, ahli botani, dan ilmuwan alias “ scientist ”, istilah yang baru-baru saja dicetuskan oleh teman Babbage. 3 Dengan mendatangkan para cendekiawan sains ke tengah-tengah lingkup pergaulan terpandang, Babbage menurut seorang geolog terkemuka “berhasil meninggikan derajat sains di tengah-tengah masyarakat, sebagaimana seharusnya”.

Pesta-pesta tersebut dimeriahkan dansa-dansi, pembacaan buku dan puisi, permainan, kuliah, serta sajian berupa macam-macam hidangan laut, daging sapi, dan ayam hutan, minuman eksotis, serta sajian penutup yang manis berlabur es. Para wanita menggelar tableaux vivants , yakni reka ulang lukisan-lukisan terkenal. Para ahli astronomi memajang teleskop. Para peneliti memamerkan alat-alat ajaib yang bekerja berdasarkan prinsip kelistrikan dan kemagnetan. Sementara itu, Babbage memperkenankan para tamu untuk memainkan boneka-boneka mekanisnya.

Daya tarik utama pestanya dan satu dari sekian banyak alasan Babbage mengundang tamu-tamu tersebut adalah demonstrasi model Mesin Selisih, alat hitung mekanis raksasa yang tengah dia rakit di dalam bangunan tahan api di samping rumahnya. Babbage memamerkan model tersebut secara dramatis, memutar lengan mesin untuk mengalkulasikan sederet bilangan dan, tepat saat hadirin mulai bosan, menunjukkan betapa pola bilangan bisa berubah mendadak, mengikuti instruksi yang dimasukkan ke mesin. 5 Orang-orang yang kelihatannya paling tertarik akan diundang ke halaman untuk selanjutnya masuk ke bekas istal, tempat mesin yang utuh sedang dirakit.

Mesin Selisih Babbage, yang dapat memecahkan persamaan polinomial, menghasilkan kekaguman yang berlainan bagi orang-orang. Duke of Wellington berkomentar bahwa mesin itu bisa bermanfaat untuk menganalisis macam-macam variabel yang mungkin dihadapi oleh seorang panglima sebelum terjun ke pertempuran. 6 Ibu Ada, Lady Byron, memuji alat tersebut sebagai “mesin yang bisa berpikir ”.

Ada kelak mengatakan bahwa mesin tidak bisa berpikir dalam arti sebenarnya. Namun, menurut pengamatan seorang kawan yang ikut dengan mereka ke acara demonstrasi, “Nona Byron, sekalipun masih belia, memahami cara kerja mesin tersebut dan mafhum bahwa kreasi tersebut luar biasa indah .”

Berkat kecintaan terhadap puisi dan matematika, Ada mampu mengapresiasi indahnya mesin komputasi. Ada merupakan anak zamannya, era Romantisisme sains yang dicirikan antusiasme puitis akan inovasi dan penemuan. Pada periode itu, “Imajinasi dan kegairahan menggebu-gebu merupakan bagian tak terpisahkan dari kerja ilmiah,” demikian tulisan Richard Holmes dalam The Age of Wonder. “Yang mendorong penemuan baru ialah komitmen pribadi yang intens, bahkan gegabah.” 8

Singkatnya, zaman itu tidak lain-lain amat dengan era kita sekarang. Kemajuan Revolusi Industri, termasuk munculnya temuan baru seperti mesin uap, mesin tenun mekanis, dan telegraf, mengubah abad ke-19 sebagaimana Revolusi Digital dengan temuan seperti komputer, sirkuit terpadu, dan Internet mengubah era kita. Di jantung kedua era itu berdirilah para inovator yang memadukan imajinasi dan renjana dengan teknologi mumpuni, racikan yang Ada sebut sebagai “sains yang puitis” dan didapuk oleh penyair abad ke-20, Richard Brautigan, sebagai “mesin maha pengasih”.

wowkece.me

Belum ada Komentar untuk "Sains yang puitis"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel