SEGITIGA VANNEVAR BUSH

himedik.me


SEGITIGA VANNEVAR BUSH 


Inovasi kerap menyisakan jejak organisasi yang menciptakannya. Internet merupakan contoh kasus menarik karena kreatornya adalah tiga pihak yang berkolaborasi: militer, perguruan tinggi, dan korporasi swasta. Yang patut dicatat, ketiganya tidak menghimpun diri secara longgar demi mengejar tujuan masing-masing. Sebaliknya, selama dan sesudah Perang Dunia II, ketiga pemain tersebut lebur menjadi satu kesatuan, yakni segitiga militer-industri-akademik.

Orang yang paling bertanggung jawab dalam menempa persatuan itu adalah Vannevar Bush, profesor MIT yang pada 1931 membuat Differential Analyzer, komputer analog perintis yang dijabarkan dalam Bab Dua. 1 Bush sangat pas menjalankan peran tersebut karena sempat menjadi bintang di ketiga kubu: Dekan MIT School of Engineering, pendiri perusahaan elektronika Raytheon, dan administrator bidang sains di dalam militer AS saat Perang Dunia II.

“Tidak ada orang Amerika yang pengaruhnya terhadap pertumbuhan sains dan teknologi sebesar Vannevar Bush,” ucap Presiden MIT Jerome Wiesner kelak, dan menambahkan, “ inovasi (Bush) yang paling signifikan ialah gagasannya agar pemerintah menjalin kontrak dengan universitas dan laboratorium industri daripada membuat laboratorium besar sendiri.” 2 Bush lahir di dekat Boston pada 1890. Dia putra seorang pendeta Protestan Universalis yang memulai karier sebagai juru masak di kapal nelayan makarel. Kedua kakek Bush menjadi kapten kapal penangkap paus. Barangkali karena lahir di tengah keluarga pelaut, Bush memiliki sifat blakblakan dan pedas yang membantunya menjadi manajer tegas dan administrator karismatik.

Sama seperti banyak pemimpin teknologi, Bush pakar merekayasa produk sekaligus sigap membuat keputusan. “Semua kakek dan buyut saya kapten kapal. Mereka tidak pernah ragu-ragu dalam memimpin dan memberikan komando,” dia pernah berkata. “Saya mewarisi kecenderungan untuk pegang kendali dan sok main perintah dari mereka.”

Juga sama seperti banyak pemimpin teknologi ulung lainnya, Bush sangat menyukai ilmu humaniora dan sains ketika tumbuh besar. Dia bisa mengutip Kipling atau Umar Khayyam “di luar kepala”, memainkan seruling, menggemari simfoni, dan membaca buku filsafat untuk hiburan. Keluarganya juga mempunyai bengkel di ruang bawah tanah, tempat Bush cilik membuat kapal-kapalan dan mainan mekanis.

Sebagaimana yang kelak dilaporkan Time , “Van Bush yang ramping, lugas, dan pedas adalah seorang Yankee tulen yang kecintaannya pada sains bermula dari sama seperti banyak pemuda Amerika kegemaran mengotak-atik barang.” 4 Berkuliah di Universitas Tufts, dia melewatkan waktu luang dengan membuat mesin survei menggunakan dua roda sepeda serta pendulum untuk merunut perimeter suatu area dan mengalkulasi luasnya dengan kata lain, alat analog untuk menghitung kalkulus integral. Dia memperoleh paten atas alat itu, yang pertama dari ke-49 paten yang dia kumpulkan seumur hidupnya. Selagi kuliah di Tufts, Bush dan teman-teman sekamar menjadi konsultan beberapa perusahaan kecil dan, setelah lulus, mendirikan Raytheon, yang tumbuh menjadi kontraktor pertahanan raksasa sekaligus perusahaan elektronika. Bush meraih PhD di bidang teknik elektro dari MIT dan Harvard, kemudian menjadi profesor dan Dekan Fakultas Teknik di MIT, perguruan tinggi tempatnya membuat Differential Analyzer.

 Dia berhasrat meninggikan derajat sains dan teknologi di tengah masyarakat pada masa ketika pada pertengahan 1930-an tidak tampak perkembangan menarik di kedua bidang itu. Televisi belum menjadi consumer product , sedangkan temuan anyar paling mengesankan yang dimasukkan ke kapsul waktu pada Pameran Dunia 1939 di New York berupa arloji Mickey Mouse dan pisau cukur Gillette. Datangnya Perang Dunia II mengubah situasi tersebut, menghasilkan ledakan teknologi baru dikomandoi oleh Vannevar Bush.

Khawatir kalau-kalau pihak militer AS tertinggal dalam bidang teknologi, Bush memobilisasi Presiden Harvard, James Bryant Conant, dan para pemimpin ilmiah yang lain untuk meyakinkan Presiden Franklin Roosevelt agar membentuk National Defense Research Committee dan kemudian Office of Scientific Research and Development, yang keduanya dikepalai oleh Bush. Sambil menggigit pipa tembakau dan memegang pensil, dia lantas mengawasi Manhattan Project, yang bertujuan membuat bom atom, serta proyek-proyek pengembangan radar dan sistem pertahanan udara. Time menjulukinya “Jenderal Fisika” di sampul salah satu edisi pada 1944. “Andai kita tidak ambil ancang-ancang dalam mengembangkan teknologi perang sejak sepuluh tahun lalu,” kata Bush sambil menggebrak meja sebagaimana dikutip oleh Time , “kita barangkali takkan memenangi perang sialan ini.”

Berkat gaya yang tanpa tedeng aling-aling, tetapi hangat, Bush menjadi pemimpin yang tangguh sekaligus disayang. Suatu kali sekelompok ilmuwan militer, yang frustrasi karena masalah birokratis, mendatangi kantornya untuk mengundurkan diri. Bush tidak paham apa yang mereka ributkan. “Jadi, saya katakan kepada mereka,” kenangnya, “‘Tidak boleh mengundurkan diri pada masa perang. Sana, keluar. Kembalilah bekerja. Biar saya yang urus.’” 

Mereka langsung patuh. Sebagaimana komentar Presiden MIT Jerome Wiesner kelak, “Dia seorang pria berpendirian teguh, berapi-api dalam mengemukakan pendapat, tetapi dia terperangah kagum akan misteri alam, berkepribadian hangat, bertenggang rasa terhadap kelemahan manusia, dan berpikiran terbuka dalam menyikapi perubahan.” 7 Seusai perang, Bush mengeluarkan laporan pada Juli 1945 atas permintaan Roosevelt (yang akhirnya diserahkan kepada Presiden Harry Truman) yang berisi anjuran agar pemerintah mendanai riset ilmu dasar sambil bermitra dengan perguruan tinggi dan industri. Bush memilih judul yang menggugah dan sangat Amerika, yaitu “Sains, Tapal Batas Tak Berujung” (“Science, the Endless Frontier”).

Kata pengantarnya layak dibaca oleh politikus yang mengancam memangkas anggaran riset iptek. “Riset ilmu dasar menghasilkan pengetahuan baru,” tulis Bush. “Pengetahuan merupakan modal ilmiah. Dari sana dapat diciptakan terapan praktis yang bermanfaat.” 8 Deskripsi Bush mengenai riset ilmu dasar yang menjadi benih bagi temuan bernilai praktis disebut “ model inovasi linear”. Walaupun para sejarawan sains kelak mengkritik model linear karena terlampau menyederhanakan hubungan antara riset teori dasar dan aplikasi praktis, konsepsi tersebut masih diyakini banyak orang dan memang ada benarnya.

Bush menulis perang telah “menunjukkan dengan terang benderang” bahwa sains dasar kajian mengenai prinsip-prinsip fundamental dalam bidang fisika inti, laser, sains komputer, radar, dan lain-lain “amatlah esensial demi menjamin keamanan nasional”. Selain itu, riset dasar penting bagi keamanan ekonomi Amerika, imbuhnya. “Produk baru dan proses baru tidak serta-merta utuh dan matang, tetapi dibuat setahap demi setahap, semakin sempurna seiring dengan ditemukannya prinsip dan konsepsi baru. Prinsip dan konsepsi mendasar tersebut buah dari penelitian di ranah sains murni. Bangsa yang tidak proaktif dalam melakukan riset ilmu dasar akan tertinggal dalam bidang industri dan gagap bersaing di kancah perdagangan dunia.”

Dengan demikian, Presiden takkan diusik oleh orang-orang yang bermaksud mencari kedudukan politik. “Van, Anda sebaiknya jadi politikus,” Truman memberitahunya.

“Insting Anda tajam.” Bush menimpali, “Pak Presiden, memangnya Anda kira apa yang saya kerjakan di kota ini selama lima, enam tahun terakhir?” 10 Penciptaan kerja sama segitiga pemerintah-industri-akademis juga merupakan inovasi signifikan. Sebab, hubungan tersebut turut berperan dalam menghasilkan Revolusi Teknologi pada akhir abad ke-20Departemen Pertahanan AS dan National Science Foundation segera saja menjadi pemberi dana terbesar riset ilmu dasar di Amerika, menggelontorkan dana penelitian yang hampir sama besarnya dengan industri swasta sepanjang 1950 hingga 1980-an.* 1 Investasi tersebut mendatangkan imbalan mahabesar, bukan saja membuahkan Internet, melainkan juga banyak landasan inovasi pascaperang dan ledakan ekonomi. Intinya, berkat kerja sama ketiga kubu itulah Amerika Serikat dapat menjadi pemimpin dunia di segala bidang.

Beberapa pusat riset korporat, contohnya Bell Labs yang tenar, sudah berdiri sebelum perang. Namun, sesudah Bush menyeru pemerintah agar memberikan sokongan, kontrak, dan pendanaan, pusat-pusat riset hibrida mulai menjamur. Salah satu yang paling menonjol ialah RAND Corporation, yang mula-mula bertujuan menyuguhkan hasil penelitian dan pengembangan ( R esearch AN d D evelopment) untuk Angkatan Udara Amerika Serikat. Lalu, ada Stanford Research Institute dan sempalannya, Augmentation Research Center; serta Xerox PARC. Semua akan memainkan peran dalam mengembangkan Internet.

Dua institusi penting semacam itu berdiri di sekitar Cambridge, Massachusetts, tepat sesudah perang: Lincoln Laboratory, badan riset yang didanai oleh militer dan berafiliasi dengan MIT, serta Bolt, Beranek and Newman, perusahaan litbang yang didirikan dan dipenuhi oleh insinyur-insinyur MIT (dan segelintir insinyur Harvard). Tokoh yang berhubungan dekat dengan kedua institusi ini adalah profesor MIT berlogat Missouri kental, supel, ramah, dan berbakat merajut kerja sama tim. Pria ini yang berperan paling penting dalam penciptaan Internet.

himedik.me

Belum ada Komentar untuk "SEGITIGA VANNEVAR BUSH "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel