SIMBIOSIS MANUSIA-KOMPUTER

himedik.me


SIMBIOSIS MANUSIA-KOMPUTER


Di MIT Licklider berkolaborasi dengan tokoh pionir kecerdasan buatan, John McCarthy, yang labnya menjadi tempat para peretas Tech Model Railroad Club menciptakan Spacewar. Dikomandoi oleh McCarthy, mereka membantu mengembangkan, pada periode 1950-an, sistem time-sharing komputer. Sampai saat itu, ketika ingin menggunakan komputer untuk mengerjakan sesuatu, kita harus menyerahkan setumpuk kartu berlubang atau pita kertas kepada operator, seperti menyerahkan sesaji kepada pendeta yang melindungi seorang peramal.

Metode ini dikenal dengan istilah “ batch processing ” dan menyebalkannya minta ampun. Butuh berjam-jam atau malah berhari-hari untuk memperoleh hasil; kekeliruan sekecil apa pun bisa saja mengharuskan kita kembali menyerahkan setumpuk kartu untuk diolah lagi; dan kita tidak punya kesempatan menyentuh atau bahkan melihat komputer itu sendiri.

Time-sharing berbeda. Dengan sistem itu, banyak terminal bisa disambungkan ke komputer mainframe yang sama sehingga lebih dari satu pengguna bisa mengetikkan perintah secara langsung dan memperoleh respons hampir seketika. Seperti grandmaster yang bermain catur dengan banyak lawan secara serempak, memori inti komputer mainframe akan melacak semua pengguna, sedangkan sistem operasinya mempunyai kemampuan multitasking dan menjalankan banyak program. Sistem semacam ini memberikan pengalaman memikat bagi pengguna: kita bisa mengoperasikan dan berinteraksi langsung dengan komputer, seperti berbincang empat mata.

“Muncul semacam sekte baru di sini, begitu orang-orang sadar bahwa proses baru tersebut lain sekali dengan batch processing ,” kata Licklider. 19 Time-sharing merupakan langkah maju menuju kemitraan atau simbiosis manusia- komputer yang betul-betul tak terperantarai. “Penemuan metode interaktif untuk menggunakan komputer dalam bentuk time-sharing malah lebih penting daripada komputer itu sendiri,” menurut Bob Taylor.

“ Batch processing sama seperti surat-menyurat dengan seseorang, sedangkan komputasi interaktif sama seperti mengobrol dengan orang itu.” 20 Pentingnya komputasi interaktif menjadi jelas di Lincoln Laboratory, sentra riset yang didanai oleh militer dan turut didirikan oleh Licklider di MIT pada 1951. Di sanalah Licklider merajut tim, setengahnya psikolog dan setengahnya insinyur, untuk mencari cara supaya manusia bisa berinteraksi secara lebih intuitif dengan komputer dan informasi dapat disuguhkan dengan antarmuka yang lebih bersahabat.

Salah satu misi Lincoln Laboratory ialah mengembangkan komputer untuk sistem pertahanan udara yang akan memberikan peringatan awal bila musuh menyerang dan mengoordinasikan tanggap darurat. Sistem tersebut dinamai SAGE ( Semi-Automatic Ground Environment) dan membutuhkan biaya serta pekerja lebih banyak daripada program pembuatan bom atom Manhattan Project. Agar sistem SAGE berfungsi sebagaimana mestinya, para pengguna mesti bisa berinteraksi langsung dengan komputer. Ketika misil atau pesawat pengebom musuh tengah mendekat, tidak ada waktu untuk mengerjakan kalkulasi dengan batch processing .

Sistem SAGE terdiri atas 23 sentra pelacakan di seluruh Amerika Serikat, yang terhubung satu sama lain dengan sambungan langsung telepon jarak jauh. Sistem ini mampu menyebarluaskan informasi mengenai maksimal 400 pesawat yang melaju kencang secara serempak. Untuk itu, dibutuhkan komputer interaktif canggih, jaringan yang dapat mentransmisikan informasi bervolume besar, dan monitor yang bisa menyuguhkan informasi tersebut dalam bentuk grafis yang mudah dimengerti. Berkat latar belakang di bidang psikologi, Licklider dipanggil untuk membantu mendesain tampilan antarmuka manusia-mesin (tampilan yang pengguna lihat di layar).

Licklider memformulasikan seperangkat teori mengenai cara-cara memupuk simbiosis atau kemitraan yang padu supaya manusia dan mesin dapat bekerja sama untuk memecahkan persoalan. Yang terpenting, perubahan kondisi mesti bisa ditampilkan secara visual. “Kami menginginkan metode untuk menangkap situasi udara dari detik per detik, metode untuk memplot lintasan bukan titik-titik dan mewarnai lintasan agar informasi terbaru bisa kelihatan dan arah geraknya bisa diprediksi,” jelas Licklider. 21 Nasib Amerika Serikat mungkin akan ditentukan oleh bisa-tidaknya juru kendali konsol mengevaluasi data secara tepat dan merespons secara serta-merta.

Komputer yang interaktif, antarmuka yang intuitif, dan jaringan berkecepatan tinggi membuktikan bahwa manusia dan mesin dapat bekerja sama serta bermitra secara kolaboratif. Licklider membayangkan kerja sama semacam ini bisa dimanfaatkan lebih dari sekadar untuk sistem pertahanan udara. Dia mulai membicarakan menurut istilah Licklider sendiri “sistem SAGE sungguhan” ( sage berarti ‘bijak bestari’) yang bukan saja akan menghubungkan sentra-sentra pertahanan udara, tetapi juga “sentra-sentra berpikir” berupa perpustakaan pengetahuan raksasa, tempat orang-orang berinteraksi lewat konsol antarmuka ramah pengguna. Singkat kata, Licklider membayangkan dunia digital seperti yang kita kenal sekarang.

Ide pokok tersebut tertuang dalam salah satu karya ilmiah terpenting dalam sejarah teknologi pasca- Perang Dunia II, yang berjudul “Simbiosis Manusia-Komputer” dan diterbitkan oleh Licklider pada 1960. “Mudah-mudahan pada masa yang tidak lama lagi otak manusia dan mesin komputasi bisa bekerja sama dengan sangat erat,” tulis Licklider, “sedangkan hasil kemitraan tersebut bisa mengungguli daya pikir manusia serta memproses data secara lebih mumpuni ketimbang mesin pengolah informasi yang kita kenal dewasa ini.”

Kalimat ini layak dibaca ulang karena mengandung salah satu konsep sentral era digital. 22 Licklider sepakat dengan Norbert Wiener penggagas teori sibernetika, yang memegang asumsi dasar kerja sama erat antara manusia dan mesin alih-alih dengan kolega mereka di MIT seperti Marvin Minsky dan John McCarthy, yang bercita-cita menciptakan kecerdasan buatan lewat mesin berpikir yang bisa belajar sendiri dan nantinya mereplikasi daya kognitif manusia. Sebagaimana Licklider jelaskan, lebih masuk akal untuk menciptakan lingkungan yang kondusif supaya manusia dan mesin dapat “bekerja sama dalam membuat keputusan”.

Dengan kata lain, manusia dan mesin akan saling melengkapi. “Manusia menetapkan sasaran, memformulasikan hipotesis, menentukan kriteria, dan melakukan evaluasi. Mesin komputasi mengerjakan tugas-tugas rutin untuk membantu manusia menelurkan gagasan dan keputusan di ranah sains dan teknologi.”

himedik.me

Belum ada Komentar untuk "SIMBIOSIS MANUSIA-KOMPUTER"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel