6 Kiat budidaya udang galah terbaru


Fawaz.id - 6 Kiat budidaya udang galah terbaru | Lahan adalah tanah untuk membangun semua fasilitas. Karena tempat ini harus mendukung kehidupan udang galah, lahan yang dipilih tidak boleh sembarangan dan harus melalui berbagai pertimbangan. Simak pemaparan berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan dalam mempersiapkan lahan.

1. Syarat lahan

Lahan budi daya udang galang harus memenuhi persyaratan. Hal ini bertujuan agar proses produksi dapat berjalan lancar dan tidak menemukan kendala. Ada 3 persyararan pokok yang harus di penuhi, yaitu teknis, ekonomis, dan sosial.
Lahan budi daya udang galah sebaiknya milik sendiri, bukan sewaan atau kontrakan. Pada lahan sendiri bisa lebih bebas dalam membangun fasilitas dan tidak perlu meminta izin terlebih dari dahulu. Meski dibangun dengan biaya besar, tetapi fasilitas tersebut dapat digunakan untuk jangka panjang. Jadi, tidak perlu memperhitungkan jangan usia ekonomisnya.
a. Persyaratan teknis
  • Dekat dengan sumbe raiar, tetapi bukan daerah banjir
  • kualitas airnya baik dan tidak tercemar oleh limbah industri dan logam berat
  • air mengalir kontinu sepanjang tahun
  • jenis tanahnya baik dna tidak porous
  • luas lahan sesuai denagn skala usaha yang diinginkan
b. Persyaratan sosial
  • dapat menjaga lingkungan hidup dan kelestarian alam, artinya lahan yang dihunakan tidak merusak lingkungan yang sudah ada sehingga nantinya dapat terjalin hubungan baik dengan masyarakat pengguna lahan di sekitarnya
  • menggunakan sumber daya alam yang ada disekitar. Penyediaan sarana dan parasarana tidak harus mencari atau mendatangkan dari daerah lain, sehingga biaya pengadaan bisa di minimalisasi
  • menggunakan tenaga kerja penduduk sekitar sehingga mengurangi pengangguran dan tidak menimbulkan kecemburuan sosial
  • keamanan lahan terjamin atau tidak diganggu oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab
  • memperoleh izin tokoh setempat dan persetujuan masyarakat sekitar
c. Persyaratan ekonomis
  • dekat dengan daerah pemasaran sehingga mudah memasarkan hasil dan tidak memerlukan biaya pengangkutan yang terlalu besar
  • tersedia prasarana jalan yang baik dan sarana angkutan yang memadai, agar pengangkutan sarana produksi dan pemasaran hasil bisa lebih cepat
  • lokasi tidak jauh dari pusat kota agar sarana produksi mudah diperoleh dan harganya tidak terlalu mahal
  • sarana produksi mudah didapat sehingga bila dibutuhkan segara dapat diperoleh
  • sarana perhubungan lain. seperti jaringan telepon sehingga mudah dalam komunikasi

2. Luas lahan

luas lahan yang disediakan tergantung pada tahapan kegiatan usaha yang dipilih dan skala produksinya. untuk menghitung kebutuhan, lahan dibagi menjadi dua kategori, yaitu lahan yang dapat digunakan langsung dan lahan yang tidak dapat digunakan langsung.

3. Izin usaha

Tidak hanya persyaratan lahan, izin usaha juga harus dipikirkan. Terutama untuk usaha udang galah yang berskala besar. Hal ini penting mengingat usaha udang galah yang berskala besar mampu memicu kecemburuan sosial terhadap masyarakat sekitar dan mempermasalahkan kelangsungan usaha tersebut. Karena itu, perlu dilakukan pendekatan kepada tokoh setempat, terutama ketua rukun tetangga (RT), ketua rukun warga (RW), dan kepala desa (lurah). Jika perlu, meminta izin dari pemerintahan yang lebih tinggi, seperti pemerintah kota atau kabupaten.

4. Air

mengingat air merupakan kebutuhan utama dalam usaha udang galah. Bahkan air menjadi salah satu faktor penentu kesuksesan usaha udang galah. Ada empat hal penting yang harus diperhatikan dalam memilih air untuk usaha udang galah, yaitu sumber, kuantitas, kualitas, dan kontinuitas.

1. Sumber

Air untuk usaha udang galah bisa berasal dari beberapa sumber. Mengingat jenis air yang dibutuhkan dalam setiap kegiatannya berbeda, maka dibutuhkan sumber air yang berbeda. Misalnya, pada saat penetasan dan pemeliharaan, diperlukan pasokan air payau sehingga pemeliharaan lebih tepat dilakukan di tempat yang dekat dengan sumber air tawar dan air laut. Sementara itu, sumber air yang sangat cocok kegiatan pembesaran, antara lain sumur, mata air, dan kali.

2. Kuantitas

Kuantitas atau disebut pula debit air adalah jumlah air yang tersedia atau mengalir di suatu sumber air. Jumlah air yang dibutuhkan tergantung pada skala produksi dan tahapan kegiatan yang dilakukan. Untuk pembesaran, setiap skala produksi 1.000 kg/bulan dibutuhkan air sekitar 1—5 liter/detik.
Debit air disuatu sumber air dapat diukur dengan penghitungan secara matematis. Namun, sebelumnya kita harus mengetahui dulu kecepatan air, lebar rata-rata saluran, dan tinggi air yang mengalir. Kecepatan air dapat diketahui dengan melepaskan pelampung dari styrofoam atau bahan lain ke dalam aliran air yang lurus minimum sejauh 10 meter.
Waktu yang diperlukan dari satu titik ke titik lain diukur menggunakan jam tangan atau stop watch. Lebar saluran dan tinggi rata-rata air diukur dengan meteran atau penggaris. Pengukuran ini dilakukan beberapa kali agar datanya lebih akurat. Data hasil pengukuran ini, dijumlah dan dirata-ratakan sehingga ditemukan waktu yang ditempuh, lebar saluran, dan tinggi air.
Cara lain yang lebih sederhana adalah dengan menghitung langsung. Cara ini dapat dilakukan langsung pada lubang pemasukan air. Alat-alat yang digunakan terdiri dari ember dengan volume tertentu dan stop watch. Cara pengukurannya dapat dilakukan dengan mengisi ember dengan air yang masuk melalui lubang pemasukan air dan catat waktu yang dibutuhkan untuk mengisi ember tersebut. Misalnya, ember yang digunakan bervolume 20 liter dan waktu yang dibutuhkan untuk mengisi ember tersebut adalah 4 detik. Maka debit air dalam sumber air tersebut adalah 20 liter/4 detik = 5 liter/ detik.

3. Kualitas

Kualitas atau mutu air sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup hewan air, termasuk udang galah. Pada air yang berkualitas baik, udang galah dapat hidup dengan baik, tumbuh dengan cepat, dan tidak mudah terserang penyakit. Sementara itu, kualitas air yang kurang baik dapat menyebabkan nafsu makan udang galah menurun, mudah terserang penyakit dan stres, bahkan dapat menyebabkan kematian pada udang galah. Karena itu, kualitas air untuk beternak udang galah harus baik, agar tidak ada kendala dalam pemeliharaan.
Untuk mengetahui kualitas sumber air dapat dilakukan pengukuran sendiri menggunakan alat-alat pengukur kualitas air. Bila tidak bisa melakukan sendiri, pengukuran kualitas air dapat meminta bantuan instansi pemerintah atau pihak-pihak tertentu. Kedua cara tersebut memang memerlukan waktu, tenaga, dan biaya, tetapi hasilnya lebih akurat.
Salah satu cara yang paling mudah, murah, tidak membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang besar, yaitu dengan melihat tingkat kehidupan beberapa jenis ikan yang hidup di sumber air tersebut, misalnya ikan mas atau nila. Indikasinya, bila ikan mas atau nila hidup baik, air tersebut bisa digunakan untuk membudidayakan udang galah. Sebaliknya, bila banyak ikan mas atau nila yang mati atau hidup kurang baik, berarti kualitas airnya kurang baik.

4. Kontinuitas

Sumber air yang mampu menyediakan air setiap saat atau tidak pernah kering dapat dikatakan memiliki kontinuitasnya baik. Sementara itu, sumber air yang tidak dapat menyediakan air setiap saat atau hanya mengalir sewaktu-waktu dapat dikatakan kontinuitasnya kurang baik. Untuk mengetahui kontinuitas air dapat ditanyakan kepada beberapa anggota masyarakat, tokoh, dan aparat pemerintahan setempat. Bisa pula dilakukan survei pada saat musim kemarau.

5. Jenis tanah

Tanah untuk usaha udang galah harus memiliki sifat fisik dan kimia yang baik sehingga kesuburannya terjamin saat dibuat menjadi kolam. Di samping itu, tanahnya harus yang kokoh sehingga tidak mudah longsor bila dibangun fasilitas atau bangunan di atasnya. Ada dua jenis tanah yang bisa dipilih, yakni jenis tanah terapan dengan kandungan liat 30% dan jenis tanah liat atau lempung berpasir dengan perbandingan 3 : 2.

6. Ketinggian tempat

Ketinggian tempat merupakan letak suatu tanah yang diukur dari air laut sebagai titik nol. Letak suatu tempat dilihat dari muka laut sangat berhubungan erat dengan suhu udara dan suhu air. Sementara itu, suhu akan berpengaruh pada kehidupan udang galah, terutama metabolisme. Semakin tinggi suhu, semakin tinggi pula metabolismenya. Sebagai jenis udang yang berasal dari Indonesia, udang galah hidup di daerah beriklim tropis dan dapat dipelihara ditempat dengan ketinggian 0—800 meter di atas permukaan laut

Belum ada Komentar untuk "6 Kiat budidaya udang galah terbaru"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel